"Want Meta to stop collecting employee data to feed to their AI models?" bunyi selebaran poster aksi protes di beberapa kantor Meta Amerika Serikat.

Hingga saat ini, lebih dari 500 karyawan dilaporkan telah menandatangani petisi penolakan penyerapan data aktivitas komputer tersebut.

"Meta has an extreme culture of fear," kata seorang ilmuwan data Meta.

Pihak korporasi memberikan respons resmi mengenai peluncuran alat pemantauan MCI.

Manajemen menyatakan bahwa data interaksi nyata manusia sangat dibutuhkan agar agen AI dapat mempelajari cara menyelesaikan tugas-tugas komputasi sehari-hari.

"If we're building agents to help people complete everyday tasks using computers, our models need real examples of how people actually use them – things like mouse movements, clicking buttons and navigating dropdown menus," kata juru bicara Meta.

Meta memastikan telah menerapkan sistem pengamanan ketat untuk melindungi konten sensitif milik karyawan selama proses perekaman.

Perusahaan menegaskan data tersebut tidak akan disalahgunakan untuk keperluan lain di luar pelatihan AI.

"To help, we're launching an internal tool that will capture these kinds of inputs on certain applications to help us train our models.

There are safeguards in place to protect sensitive content, and the data is not used for any other purpose," ujar juru bicara Meta.

Sebelum gelombang PHK ini terjadi, Meta mencatatkan jumlah pekerja berada di bawah angka 80.000 orang pada akhir Maret 2026.

>>> Meta PHK 8.000 Karyawan Global, Fokus ke AI

Di sisi lain, CEO Mark Zuckerberg sebelumnya telah mengumumkan alokasi anggaran infrastruktur AI mencapai 135 miliar dolar AS untuk tahun ini.