"Our work, infrastructure and our products are fundamentally changing as a result of the continued acceleration of AI," tulis Peter Hoose, Vice President of Production Engineering di Meta.

Ia menambahkan bahwa kecepatan pengembangan teknologi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perusahaan.

"The pace of what we are building is unprecedented, and these are exactly the kind of challenges that define what we do best," kata Peter Hoose.

Protes Karyawan Terkait Pengawasan Digital

Restrukturisasi ini memicu ketegangan internal dan penurunan moral di kalangan pekerja. Penyebabnya adalah adanya pengawasan digital baru bernama Model Capability Initiative (MCI).

Program pemantauan tersebut melacak pergerakan tetikus, ketukan papan tik, hingga aktivitas salin-tempel staf untuk melatih model AI.

"Does 'selected' imply this is an [Applied AI]-style draft rather than a voluntary move?" tulis seorang karyawan Meta.

>>> Meta PHK 8.000 Karyawan Global, Fokus pada AI

Para pekerja menilai strategi manajemen puncak saat ini cenderung mengarah pada tindakan mikro-otoritarianisme yang menekan otonomi karyawan.

"The new orgs showcase a shift in top level management strategy towards micro-authoritarianism," ujar seorang insinyur Meta kepada The Guardian.

Ia merasa perusahaan kini lebih menerapkan sistem komando mutlak dibandingkan memberikan pemberdayaan kepada para pekerjanya. Hal ini mengubah kultur perusahaan yang sebelumnya dikenal sangat fleksibel.

"'No, we tell you what to do, and command and order is the way forward,'" kata insinyur tersebut.

Gejolak ini memicu aksi protes dari para karyawan yang mulai menggalang petisi penolakan pengumpulan data perangkat kerja.

Ketakutan akan sanksi profesional membuat sebagian besar gerakan penolakan ini dilakukan secara tertutup.