Padahal, penetapan harga smartphone China umumnya dikenal sangat agresif selama ini. Strategi harga kompetitif tersebut selalu menjadi daya tarik utama bagi konsumen global.

>>> 5 Rekomendasi Tablet Rp2 Jutaan Paling Worth It, Ada yang Punya Slot SIM

Peringatan serupa sebenarnya bukan kali ini saja disampaikan oleh Lu Weibing sejak akhir tahun lalu. Saat itu, ia menyebut konsumen kemungkinan merasakan kenaikan harga ritel yang cukup signifikan.

Menurut Weibing, penyesuaian harga jual saja tidak cukup untuk menutup seluruh tekanan biaya produksi. Sebagian beban produksi harus dialihkan ke harga perangkat.

Kenaikan Harga di Lain Seri

Situasi ini makin mencuat setelah banyak pengguna mengeluhkan harga awal Redmi K90.

Ponsel tersebut dibanderol 2.599 yuan atau sekitar Rp 6,1 juta untuk varian RAM 12/256 GB.

Harga itu lebih tinggi dari pendahulunya, Redmi K80, yang dilepas di harga 2.499 yuan atau sekitar Rp 5,8 juta.

Kenaikan pada lini tersebut memperkuat dugaan bahwa seri ponsel kelas menengah Xiaomi juga akan mengalami penyesuaian harga yang lebih agresif.

Adapun untuk harga smartphone yang akan datang seperti Xiaomi 17 Max, saat ini masih dalam pembahasan internal.

Smartphone tersebut dijadwalkan rilis pada Mei 2026 dan menjadi model baru dari lini flagship Xiaomi 17 series.

Jika peringatan Lu Weibing terbukti, hal ini akan menandai perubahan besar bagi pasar smartphone China. Konsumen global mungkin harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan perangkat flagship.

Weibing menjelaskan bahwa urusan pasokan memori tidak bisa ditangani dengan cepat oleh produsen memori.

Proses membangun pabrik memori baru memerlukan waktu beberapa tahun dari awal pembangunan hingga produksi massal.

>>> Huawei Luncurkan Monitor Qingyun M273U, Padukan Fitur Kantor dan Gaming

Sementara itu, permintaan pasar di tengah tren AI justru meningkat sangat pesat, sehingga tekanan harga memori diperkirakan berlanjut hingga 2027 atau 2028.