Nothing, merek yang didirikan mantan pendiri OnePlus Carl Pei, juga merasakan tekanan. Perusahaan dikabarkan akan keluar dari 12 pasar dan memangkas 40 persen tenaga kerja.

Namun, salah satu pendiri Nothing, Akis Evangelidis, membantah kabar tersebut.

Ia menegaskan Nothing tidak menutup bisnis di pasar mana pun dan penjualan Nothing Phone (4b) justru memecahkan rekor.

Nothing membenarkan bahwa mereka melakukan restrukturisasi dengan menggabungkan operasional negara ke pusat regional. Perusahaan juga membentuk unit bisnis baru yang berfokus pada perangkat berbasis AI.

Carl Pei sebelumnya mengungkapkan harga chip memori untuk Nothing Phone (4a) naik dua kali lipat, menyumbang hampir separuh biaya produksi.

Sub-brand CMF juga tidak meluncurkan smartphone baru tahun ini.

Nothing sulit menaikkan harga terlalu tinggi karena harus bersaing dengan merek premium seperti Samsung dan Apple yang memiliki jaringan layanan lebih luas.

Dampak bagi Konsumen: Harga Naik, Pilihan Berkurang

Krisis chip memori mempercepat proses perampingan pemain di industri smartphone. Merek dengan skala kecil dipaksa memilih pasar yang paling menguntungkan dan memangkas lini produk yang tidak laku.

>>> Celah HermeticReader di Ekstensi Adobe Acrobat Ancam Pengguna WhatsApp Web

Bagi konsumen, dampaknya tidak hanya harga smartphone yang semakin mahal. Pilihan merek dan model, terutama di kelas entry-level dan menengah, juga akan semakin terbatas.