Industri smartphone global tengah menghadapi gelombang krisis yang dipicu oleh lonjakan harga chip memori.

Dampaknya mulai terlihat nyata: OnePlus menghentikan peluncuran produk baru di Amerika Utara dan Eropa, Realme memutuskan meninggalkan pasar China dan kembali menjadi sub-brand Oppo, sementara Nothing melakukan restrukturisasi besar-besaran.

>>> Telkomsel Kantongi 100 MHz Spektrum Baru, Sinyal 5G Makin Kencang

Situasi ini berakar pada kelangkaan chip memori DRAM dan NAND.

Produsen chip kini lebih memprioritaskan pasokan untuk server dan pusat data kecerdasan buatan (AI), sehingga pasokan untuk smartphone menyusut dan harganya melonjak drastis.

Counterpoint Research mencatat pengiriman smartphone global anjlok 11 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026. Angka itu menjadi volume terendah untuk periode yang sama sejak 2013.

Biaya Produksi Membengkak, Merek Kecil Terjepit

Kenaikan harga chip memori hingga tiga kali lipat dibanding tahun lalu langsung berdampak pada bill of materials (BOM) smartphone.

Produsen dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual, mengurangi kapasitas memori, memangkas fitur, atau menanggung sendiri kenaikan biaya dengan margin tipis.

Yang Wang, Principal Analyst Counterpoint, menjelaskan bahwa produsen di segmen bawah dan menengah paling tertekan.

Mereka tidak bisa menaikkan harga terlalu tinggi karena konsumen memiliki batas kemampuan bayar yang ketat.

Merek besar seperti Apple dan Samsung masih memiliki skala produksi dan posisi tawar yang kuat.

Namun, merek yang mengandalkan strategi 'spek tinggi harga agresif' seperti OnePlus dan Realme kesulitan bertahan.

OnePlus Hengkang dari Amerika Utara dan Eropa

OnePlus mengumumkan akan menghentikan peluncuran produk baru di Amerika Utara dan Eropa. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari penyesuaian strategi global yang proaktif.