Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperingati Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 dengan aksi penanaman serentak lebih dari satu juta bibit mangrove di 162 titik pada 37 provinsi di Indonesia.

Aksi ini mencakup area seluas 364,11 hektare dan melibatkan lebih dari 25.000 peserta dari kalangan pelajar, komunitas, serikat pekerja, hingga masyarakat umum.

>>> Tampil Memukau di First Look Reacher Season 4, Agnez Mo dan Anggun C. Sasmi Siap Guncang Hollywood sebagai Antagonis

Sebagai upaya menjaga ekosistem pesisir, inisiatif berskala nasional ini turut membuktikan kemitraan strategis KLH/BPLH bersama Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta pemerintah daerah dalam memperkuat sistem pertahanan ekologis secara terpadu demi melindungi masa depan bangsa dari ancaman perubahan iklim.

Mangrove sebagai Benteng Kehidupan

Menteri LH/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa mangrove adalah kunci dalam menjaga keseimbangan ekologis dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

"Mangrove bukan hanya sekumpulan pohon di kawasan pesisir.

Mangrove adalah benteng kehidupan yang melindungi daratan, menjaga sumber kehidupan masyarakat pesisir, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati.

Mangrove diketahui memiliki peran strategis yang tidak bisa digantikan oleh infrastruktur buatan manusia.

Saat ini, Indonesia memegang posisi penting secara global dengan kawasan mangrove seluas lebih dari 3,45 juta hektare berdasarkan Peta Mangrove Nasional Tahun 2025, yang mewakili 20 hingga 25 persen dari total mangrove dunia.

Kekayaan tersebut menjadi tanggung jawab Indonesia untuk memastikan pengelolaan ekosistem mangrove dilakukan secara berkelanjutan sebagai pelindung pesisir, penjaga keanekaragaman hayati, serta penopang kehidupan masyarakat.

Tantangan dan Kebijakan Perlindungan

Pada praktiknya, ekosistem mangrove dihadapkan pada tantangan ancaman alih fungsi lahan, pencemaran, hingga eksploitasi yang tidak terkendali.