Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengerahkan drone thermal untuk mendeteksi titik api yang masih tersembunyi di dalam timbunan sampah pada kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengatakan teknologi tersebut diperlukan untuk memetakan sebaran panas sehingga petugas bisa mengetahui lokasi api yang masih aktif di bawah permukaan.

>>> Bank Mandiri Perkuat Ekosistem Ekonomi Perempuan Berkelanjutan

"Tadi kami juga sudah minta tim Gakkum untuk koordinasi dengan pihak bandara, dengan TNI AU agar bisa melakukan monitoring analisa melalui drone thermal secara berkala," ujar Diaz usai meninjau lokasi kebakaran, Sabtu (4/7).

Penggunaan drone thermal akan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Pemantauan hanya bisa dilakukan pada waktu tertentu karena khawatir mengganggu operasional helikopter water bombing.

"Karena daerahnya banyak helikopter yang lewat dan juga dekat dengan bandara, sehingga pemantauan hanya bisa dilakukan pada jam-jam tertentu," jelasnya.

Karakteristik Kebakaran Mirip Lahan Gambut

Diaz menjelaskan karakteristik kebakaran TPA Jatiwaringin menyerupai kebakaran lahan gambut.

Meski permukaan terlihat mulai padam, bara api masih bertahan di bawah timbunan sampah hingga kedalaman sekitar 10 meter.

Kondisi tersebut diperparah oleh kandungan gas metana (CH4) yang berpotensi memicu ledakan apabila tidak segera ditangani.

Untuk mengatasi kebakaran bawah permukaan, pemerintah mengerahkan 30 personel Manggala Agni yang melakukan pemadaman dengan metode inject, yakni menyuntikkan air bertekanan tinggi langsung ke titik api di bawah timbunan.

"Mereka ini ahli dalam memadamkan gambut, jadi yang serupa dengan TPA ini.

Karena TPA ini kurang efektif kalau diairin dari atas aja karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah," kata Diaz.