Secret Service mengalami peningkatan lebih dari 40% dalam kasus intelijen perlindungan tahun ini. Lonjakan ini dipicu oleh media sosial, pelaku tunggal, ancaman asing, dan masalah kesehatan mental.

Setiap kasus intelijen perlindungan dimulai dengan satu tujuan: menentukan apakah seseorang memiliki niat dan kemampuan untuk melakukan kekerasan.

Intervensi dilakukan sebelum ancaman mencapai orang yang dilindungi.

Proses Investigasi Ancaman

Ketika ancaman dilaporkan, Divisi Intelijen Perlindungan Secret Service menerima dan menilainya. Langkah pertama adalah memeriksa Sistem Manajemen Ancaman Perlindungan internal (PTMS) yang menyimpan informasi kasus historis dan aktif.

Penyidik membandingkan ancaman baru dengan kasus sebelumnya untuk mengetahui apakah terkait dengan individu atau kelompok yang dikenal.

Investigasi mencakup pencarian database kriminal, intelijen, media sosial, dan wawancara dengan orang-orang di sekitar subjek.

Kerja sama dengan kepolisian negara bagian dan lokal sangat penting. Mereka paling dekat dengan individu yang membuat ancaman dan dapat mengumpulkan informasi di bawah bimbingan Secret Service.

Kasus di Illinois baru-baru ini menunjukkan bagaimana Secret Service bekerja sama dengan kepolisian setempat. Tersangka ditangkap setelah mengunggah video yang menyerukan eksekusi Presiden Trump.

Jika ancaman dinilai dapat ditindaklanjuti, Unit Interdiksi Ancaman Lanjutan Secret Service turun tangan. Unit ini menggabungkan aset investigasi untuk memitigasi ancaman yang berkembang cepat.

Investigasi ancaman drone di UFC menjadi contoh lain.

Unit tersebut bekerja sama dengan berbagai lembaga federal, negara bagian, dan lokal untuk mengidentifikasi tersangka dan mengumpulkan informasi.

Misi yang Terus Berkembang

Volume ancaman yang meningkat dan aktivitas online anonim membutuhkan koordinasi erat antara Secret Service dan mitra federal, negara bagian, serta lokal.

Intelijen perlindungan selalu tentang mencegah serangan sebelum terjadi.