>>> Cara Hapus Data Pribadi dari Pencarian Google

Mekanisme ini diharapkan memberi kepastian bagi penyelenggara dan mencegah keluhan masyarakat terkait kebisingan, ketertiban, dan rasa keadilan dalam pemanfaatan ruang publik.

"Badung tetap terbuka bagi dunia.

Namun keterbukaan itu harus berjalan seiring dengan ketertiban, kepatutan, penghormatan terhadap hukum, serta penghormatan terhadap masyarakat lokal," ujarnya.

Sebelumnya, viral di media sosial sebuah event lari yang diduga diskriminatif terhadap WNI. Event yang diikuti sejumlah WNA itu digelar komunitas di Canggu.

Dugaan diskriminasi mencuat setelah beredar tangkapan layar percakapan yang menunjukkan calon peserta diseleksi berdasarkan kewarganegaraan. Seorang WNI dilaporkan ditolak, sementara WNA Jerman diterima.

Netizen juga menyoroti aspek perizinan karena kegiatan menggunakan jalan dan ruang publik.

Panitia event melalui akun Instagram Entourage membantah tudingan diskriminasi. Mereka mengaku menyesal atas kekecewaan yang timbul dan menjelaskan bahwa komunitas dibangun untuk digital nomad.

Mereka mengklaim klub lari umumnya gratis dan terbuka untuk semua.

Acara Disco Silent Run pada 22 Juli lalu merupakan event berbayar pertama dengan peserta WNI mencapai 25 persen.

Namun, mereka mengakui adanya masalah teknis dalam persetujuan otomatis yang menyebabkan beberapa nomor Indonesia ditolak secara tidak benar.

>>> Kemendagri dan KPK Perkuat Pencegahan Korupsi di Daerah

Entourage telah menghentikan sementara semua acara dan kegiatan serta berjanji akan melakukan perubahan ke depannya.