Mereka mengaku telah menjadi mitra SPPG di wilayah terpencil selama sekitar satu tahun, tetapi pembayaran yang sebelumnya dilakukan setelah proses evaluasi selama 35 hari kini disebut belum memiliki kejelasan selama hampir sembilan bulan.

>>> Produser Rhythm Heaven Tolak Tawaran dari Perusahaan Lain karena Rasa Hutang Budi pada Nintendo

Mereka mengatakan persoalan utama bukan semata keterlambatan pembayaran, melainkan tidak adanya kepastian mengenai waktu penyelesaiannya.

Merespons hal itu, Sudaryono mengaku telah mempelajari persoalan tersebut sejak mulai menjabat sebagai kepala BGN. Ia meminta waktu agar skema penyelesaian yang tengah disusun dapat segera dirampungkan.

"Kasih saya waktu.

Yang bisa saya pastikan adalah bapak-ibu (mitra SPPG) semua mungkin tidak bisa untung seperti apa yang diharapkan, tapi setidaknya bapak-ibu tidak dirugikan," kata Sudaryono.

Ia menambahkan skema tersebut akan dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada para mitra.

"Skemanya lagi saya carikan. Ini direkam semua, Anda boleh rekam semua.

Saya pertanggungjawabkan sebagai pimpinan di sini," ujarnya.

Suasana pertemuan sempat emosional ketika seorang anggota APGI 3T asal Papua Barat mengaku telah berada di Jakarta selama empat bulan untuk menunggu penyelesaian persoalan tersebut.

Perempuan itu menangis sambil mengatakan rumahnya terancam ditarik.

Sudaryono kemudian menghampiri dan memeluk perempuan tersebut sembari memintanya bersabar.

"Pokoknya sabar sedikit, ya," ujar Sudaryono.

Di akhir pertemuan, ia juga meminta jajaran humas BGN terus memberikan perkembangan kepada para mitra mengenai proses penyelesaian yang sedang disusun.

>>> The First Descendant: 10 Pemain Diblokir, 378 Kena Sanksi dalam Razia Anti-Cheat

"Kalau ada di antara teman-teman yang tanya, kasih updatenya ya," ujarnya.