Rosan menegaskan proyek HPAL Sambalagi menjadi bukti bahwa hilirisasi Indonesia kini memasuki tahap yang lebih maju.

Proyek tersebut tidak hanya menciptakan nilai tambah mineral, tetapi juga membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan.

>>> Ni Luh Djelantik Murka Event Lari WNA di Canggu Bali Diskriminasi WNI

"Sambalagi HPAL menetapkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada.

Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional, yaitu membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ungkap Rosan.

Pembangunan fasilitas tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk melengkapi rantai nilai industri nikel nasional, mulai dari produksi MHP, nickel sulfate, precursor, cathode active material, hingga baterai kendaraan listrik.

Dengan demikian, Indonesia tidak lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi menjadi pemain penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

"Klaster industri hijau sudah kita rancang dari hulu ke hilir, dan HPAL adalah gerbang pertamanya," tuturnya.

Selain menghasilkan nilai tambah, proyek ini juga dirancang mengedepankan prinsip keberlanjutan menuju Net Zero Emissions sejak tahap perencanaan.

Fasilitas HPAL akan memanfaatkan sistem waste heat recovery dan energi surya untuk mendukung operasional rendah karbon.

Rosan menjelaskan autoclave berkapasitas 1.268 m³ tersebut adalah generasi terbaru.

Berdasarkan data GEM Co., Ltd. selaku pelaksana konstruksi, alat tersebut merupakan unit dengan kapasitas terbesar yang pernah diterapkan pada fasilitas HPAL.

>>> Prediksi 26 Pemain Timnas Indonesia di Piala AFF 2026

"Proyek ini akan mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik, dengan kapasitas produksi sekitar 90 ribu ton kandungan nikel per tahun," jelas Rosan.