Dugaan Diskriminasi dan Monopoli Ruang Publik
 
Kasus ini menyoroti fenomena yang semakin sering muncul di kawasan wisata populer seperti Canggu, Ubud, dan Denpasar. Seiring dengan lonjakan jumlah ekspatriat dan digital nomad di Bali, gesekan sosial terkait penggunaan fasilitas umum semakin sering terjadi.
 
Dalam konteks acara lari ini, publik menyoroti bagaimana para peserta WNA diduga mengambil alih badan jalan secara penuh, sehingga mengganggu aktivitas pengguna jalan lainnya, termasuk masyarakat lokal. Hal ini tentu bertolak belakang dengan semangat kegiatan olahraga komunitas yang seharusnya merangkul semua kalangan tanpa memandang latar belakang kewarganegaraan.
 
Respons Netizen: Dukungan Luas dan Pertanyaan Kritis
 
Unggahan Niluh Djelantik dengan cepat menjadi viral, memicu banjir komentar dari warganet yang mayoritas memberikan dukungan penuh. Banyak yang mengapresiasi keberanian Niluh dalam menyuarakan isu yang sering kali dianggap tabu atau diabaikan.
 
Akun Instagram @kuesabine_bytutiputu, misalnya, menyoroti konsistensi Niluh sekaligus mengkritik sikap diam para pemangku kebijakan lain. "Sedetail itu Mbak Niluh peduli dengan Bali, kenapa kesannya Mbak Niluh sendirian? Pejabat-pejabat lain nggak pernah ada yang speak up tentang WNA," tulisnya, mencerminkan kelelahan publik terhadap minimnya penegakan aturan terhadap komunitas ekspatriat yang melanggar norma.
 
Sementara itu, akun @rezariyadyid memberikan perspektif dari pengalaman praktis penyelenggaraan acara. "Saya saja bikin kegiatan komunitas lari tidak sampai mengambil full jalan segitu, aku paling 1 baris dan 2 baris," jelasnya. Komentar ini memperkuat dugaan bahwa acara lari yang viral tersebut tidak mematuhi etika berbagi ruang publik yang lazim diterapkan oleh penyelenggara acara lokal.