Screen quality mengedepankan kualitas konten dan konteks. Ada dua tipe konsumsi konten: pasif-konsumtif dan edukatif-kreatif.

Menonton konten tanpa output tindakan termasuk pasif-konsumtif. Sementara pola edukatif-kreatif mendorong anak berpikir, misalnya menggunakan gawai untuk belajar musik.

Dari segi konteks, screen quality juga dilihat dari apakah anak menonton sendirian atau bersama orang tua.

Jika kegiatan screen time bersama orang tua memantik dialog, itu termasuk screen quality.

Orang tua yang sama-sama belajar teknologi bisa menjadi pendamping untuk mengeksplorasi dunia digital sambil memantau konten anak.

Peran Orang Tua sebagai Pendamping

Merujuk teori ekologi Bronfenbrenner, teknologi sudah tak terpisahkan dari kehidupan. Orang tua perlu terlibat dalam penggunaan gawai anak, bukan sebagai gatekeeper.

"Anak juga harus kita berikan suatu keyakinan bahwa dunia digital itu adalah ruang yang bisa dieksplorasi bareng-bareng.

Jadi, bukan suatu wilayah yang anak itu merasa sedang diawasi," kata Charyna.

Melarang secara kaku justru bisa membuat anak makin penasaran. Anak juga mulai berpikir kritis dan membandingkan diri dengan teman sebaya.

Orang tua perlu memberikan argumentasi logis terkait aturan penggunaan gawai. Ada masanya orang tua perlu berkompromi dengan anak.

"Ada hal-hal yang memang harus dikompromikan, sehingga anak tahu posisi dia penting untuk dilihat juga pendapatnya," ucap Charyna.

>>> Manga Mavericks Books Umumkan Lisensi Our Insignificant Justice dan Chapter 5 Divine Messengers di SDCC 2026

Meski keputusan akhir tetap di tangan orang tua, setidaknya ada keinginan anak yang diupayakan. Inilah hasil 'indah' dari orang tua yang mau beradaptasi.