Adaptasi menjadi kunci, tetapi bukan berarti melepas anak begitu saja tanpa keterlibatan orang tua.

Generasi Orang Tua Panik

Saat ini, peran orang tua banyak diemban oleh generasi X dan milenial yang mengalami transisi dari analog ke digital.

Charyna menilai generasi milenial mengalami 'panik' ketika menjadi orang tua.

"Satu hal yang saya catat, ya, kalau paradigma screen time ini lahir dari kecemasan generasi yang sebetulnya juga masih belajar.

Masih meraba-raba, ini apa sih," ucap Charyna.

Fenomena sharenting atau membagikan konten anak tanpa consent menjadi contoh euforia orang tua di media sosial.

Hal ini terjadi karena generasi orang tua tidak terlatih menggunakan gawai secara sehat.

Charyna menyarankan agar orang tua tidak malu mengakui bahwa mereka juga belajar, sama seperti anak.

>>> Goodbye, Lara: Sutradara Takushi Koide Ungkap Makna Cinta Sejati dan Latar Danau Biwa

Alih-alih panik dengan membatasi, orang tua perlu memperhatikan apa yang 'hilang' ketika anak menggunakan gawai.

"Screen time ini sudah menggantikan apa? Aktivitas anak yang apa?

Misalnya, kalau waktunya tidur tergantikan oleh screen time, itu bermasalah," kata Charyna.

Jika screen time menggantikan aktivitas lain, termasuk hubungan dengan orang tua, saat itulah orang tua perlu turun tangan.

Bukan untuk membatasi, tetapi mendampingi dan mengarahkan.

Selama anak masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, nilai sekolah baik, dan hobi tetap berjalan, orang tua tidak perlu khawatir.

Screen Time vs Screen Quality

Gawai dan screen time memang tidak bisa dihindari. Jika hendak beradaptasi, orang tua bisa mencari cara untuk mendapat manfaat darinya, yaitu dengan memperhatikan screen quality.