"Teknologi uap canggih bisa melakukan banyak hal, tapi saya tidak ingin itu mengancam dunia. Orang-orang tetap hidup normal," jelasnya.

Musik, Bahasa, dan Harapan untuk Penonton

Untuk musik latar, Ōta mengadakan audisi dan memilih komposer yang bisa menghadirkan elemen lingkungan, seperti suara uap dari pipa.

Ia bekerja sama dengan sutradara dubbing untuk memasukkan instrumen brass.

Lagu pembuka digarap oleh Hitomi Kotō, sementara lagu penutup menggunakan suara chill dengan sentuhan digital ala Yellow Magic Orchestra.

Menariknya, karakter dalam Sparks of Tomorrow tidak menggunakan dialek Kansai meski berlatar di Fushimi, Kyoto. Ōta mengaku sengaja menghindari dialek tersebut karena khawatir akan membatasi pengembangan karakter.

"Dialek Kansai bisa memberi kesan ceria atau agresif. Saya ingin sebanyak mungkin orang menikmati anime ini," ungkapnya.

Mengenai distribusi global, perwakilan ABC Animation, Cai Ailian, mengonfirmasi bahwa Netflix menjadi mitra streaming eksklusif. "Netflix memahami gaya KyoAni.

Mereka sangat antusias setelah melihat storyboard," katanya.

Ōta berharap Sparks of Tomorrow bisa menginspirasi penonton muda. "Karakter-karakter ini memulai dari kegagalan, tapi mereka bangkit.

>>> Jadwal Tayang Anime dan Berita Terbaru 19-22 Juli 2026

Ini adalah cerita tentang regenerasi. Saya ingin penonton merasa bahwa menjadi tulus dan menjalani hidup yang diinginkan itu tidak apa-apa," pungkasnya.