Dalam dialog dengan Mendagri, ia bercerita bahwa ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Bagi Tito, kisah Aji membuktikan latar belakang keluarga bukan penghalang untuk meraih prestasi tertinggi. Ia lalu membagikan pengalaman pribadinya sebagai bentuk inspirasi bagi para calon wisudawan.

Tito mengisahkan dirinya juga berasal dari keluarga sederhana. Meski begitu, kondisi tersebut tidak menghalanginya untuk terus berjuang hingga menjadi lulusan terbaik Akademi Kepolisian Angkatan 1987.

Ia lantas menjelaskan ada tiga titik balik yang mengubah perjalanan hidupnya. Titik balik pertama terjadi saat dirinya diterima di Akademi Kepolisian.

Titik balik kedua terjadi ketika ia memperoleh Beasiswa Chevening untuk menempuh pendidikan Master of Arts in Police Studies di Inggris pada usia 26 tahun.

Pengalaman itu memperluas wawasannya dari tingkat nasional ke tingkat global.

Titik balik ketiga terjadi saat ia menyelesaikan pendidikan doktor di Nanyang Technological University, Singapura.

Menurutnya, pendidikan bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, mengubah pola pikir, serta memperluas jejaring.

>>> Houthi Yaman Paksa Kapal di Laut Merah Ubah Rute

"Poin yang ingin saya sampaikan itu [pendidikan] membuka wawasan ilmiah, cara berpikir ilmiah, sehingga penyelesaian masalah juga selalu berbasis teori, data, referensi," tandas Tito.