Departemen Pertahanan AS telah mengidentifikasi Sersan Michael Emmanuel Swinton sebagai prajurit yang tewas pada 19 Juli saat melakukan detonasi terkendali terhadap amunisi drone serang satu arah milik Iran yang jatuh di Erbil, Irak.

Swinton, 30 tahun, bertugas di Baterai D, Batalyon 2, Resimen Artileri Pertahanan Udara ke-55, Brigade Artileri Pertahanan Udara ke-108 di Fort Bragg, Carolina Utara, menurut rilis berita Pentagon.

>>> Studi Ungkap Pola Asuh Negatif Bisa Picu Ciri Psikopat pada Anak

"Pengabdiannya tidak akan dilupakan, dan pengorbanannya tidak sia-sia," kata Letnan Jenderal John L. Rafferty, komandan Komando Rudal dan Pertahanan Udara Angkatan Darat AS, dalam rilis berita Angkatan Darat.

"Kami akan mendukung keluarga Sersan Swinton dan unitnya selama masa sulit ini. Kehilangannya akan menginspirasi rekan-rekan prajuritnya untuk melanjutkan misi," tambah Rafferty.

Seorang prajurit lain terluka dalam insiden tersebut dan menerima perawatan untuk "cedera ringan," demikian diumumkan Komando Pusat AS (CENTCOM) pada 19 Juli.

Hingga Selasa, tidak ada rincian tambahan mengenai keadaan kematian Swinton atau cedera prajurit lainnya yang segera tersedia. Insiden tersebut sedang dalam penyelidikan.

Swinton akan menerima Bintang Perunggu, Purple Heart, dan Lencana Tempur, serta akan dipromosikan secara anumerta menjadi sersan staf, menurut rilis berita Angkatan Darat.

"Sersan Swinton adalah bintara berpengalaman yang sangat bangga dengan pekerjaannya dan orang-orang di sekitarnya," kata Brigadir Jenderal John L.

Dawber, komandan Komando Pertahanan Rudal dan Udara Angkatan Darat ke-32, dalam sebuah pernyataan.

>>> Argentina Gagal Juara Dunia, Messi: Rasa Sakitnya Luar Biasa

"Dia menjawab panggilan tugas dengan keberanian, kehormatan, dan dedikasi tanpa pamrih," tambah Dawber.