Sebuah riset terbaru mengungkap bahwa kecerdasan buatan (AI) berbasis large language model (LLM) dapat membentuk stereotip terhadap pelamar kerja dalam simulasi rekrutmen, bahkan lebih kuat dibandingkan manusia.

Penelitian oleh ilmuwan Princeton University dan University of Chicago menguji sejumlah LLM, termasuk ChatGPT, Claude, dan Gemini, dalam simulasi perekrutan yang diadaptasi dari studi psikologi tentang pembentukan stereotip pada 2024.

>>> Trump Ogah Turun Panggung saat Spanyol Angkat Trofi Piala Dunia 2026

Setiap model diminta berperan sebagai konsultan wali kota di sebuah kota fiktif dan memilih kandidat untuk 20 jenis pekerjaan, mulai dari dokter, pengacara, pengasuh anak, hingga petugas kebersihan.

Kandidat dalam simulasi berasal dari empat kelompok etnis fiktif: Tufa, Aima, Reku, dan Weki.

Setiap putaran, model menerima empat kandidat dari masing-masing kelompok dan diberi tahu apakah kandidat yang dipilih berhasil dalam pekerjaannya.

Semua kandidat memiliki peluang keberhasilan yang sama untuk setiap jenis pekerjaan, namun model tidak diberi tahu kondisi tersebut.

Setelah menerima hasil awal, model mulai mengarahkan kelompok tertentu ke pekerjaan tertentu.

Misalnya, ketika seorang kandidat Aima digambarkan gagal sebagai dokter, model cenderung menghindari kandidat Aima lain untuk posisi tersebut dan lebih sering menempatkannya sebagai petugas kebersihan.

Pada skala segregasi penelitian, angka 2 berarti setiap kelompok sepenuhnya dipisahkan ke bidang pekerjaan masing-masing.

Peserta manusia dalam studi sebelumnya mencatat skor 0,84, sementara model AI mencatat skor sekitar 65 persen lebih tinggi.

Model penalaran OpenAI o3 mencapai skor 1,83, mendekati nilai maksimum dalam skala tersebut.

Ryan Liu, mahasiswa doktoral di Princeton University dan salah satu penulis penelitian, menduga LLM cepat membangun generalisasi dari data terbatas karena proses tersebut berkaitan dengan cara model dilatih untuk menyelesaikan persoalan matematika, pemrograman, dan sains.