Kartu Merah Enzo Fernandez Menjadi Titik Balik

Momentum pertandingan yang semula berjalan alot berubah drastis pada penghujung babak pertama perpanjangan waktu. Petaka datang bagi Argentina ketika gelandang andalan mereka, Enzo Fernandez, harus meninggalkan lapangan lebih cepat. Wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu kuning kedua untuk Enzo, yang memaksanya harus masuk ke ruang ganti lebih awal.
 
Bermain dengan 10 orang di sisa waktu perpanjangan waktu adalah vonis mati dalam sebuah final. Mengetahui keunggulan jumlah pemain, Spanyol semakin meningkatkan intensitas serangan mereka, mengurung wilayah pertahanan Argentina yang kini semakin rapuh.
 
Drama sempat terjadi ketika Nico Williams berhasil menyarangkan bola ke gawang Argentina. Stadion bergemuruh, namun kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik. Wasit menganulir gol tersebut setelah berkonsultasi dan melihat bahwa Mikel Merino lebih dulu melakukan pelanggaran terhadap Nicolas Otamendi dalam proses terjadinya gol. Skor tetap kacamata, ketegangan memuncak.
 

Gol Kilat Ferran Torres Pecahkan Kebuntuan

Kesabaran Spanyol akhirnya berbuah manis tepat 37 detik setelah babak kedua perpanjangan waktu dimulai. Berawal dari pergerakan lincah dan umpan matang dari Nico Williams di sisi sayap, Ferran Torres menemukan ruang tembak di dalam kotak penalti.
 
Tanpa membuang waktu, Torres melepaskan tendangan keras dan terukur yang bersarang telak di sudut atas gawang. Bola meluncur deras dan sama sekali tidak mampu dijangkau oleh Emiliano Martinez yang sudah terpaku. Gol ini menjadi satu-satunya yang tercipta sepanjang 120 menit laga, sekaligus mengunci kemenangan 1-0 bagi Spanyol.
 

Akhir Antiklimaks untuk Sang Maestro

Peluit panjang akhir laga menjadi tanda berakhirnya perlawanan Argentina. Para pemain Spanyol langsung berhamburan ke lapangan, merayakan keberhasilan mereka dengan suka cita, sementara para pemain Argentina, termasuk Lionel Messi, hanya bisa tertunduk lesu.
 
Final Piala Dunia 2026 ini secara otomatis menutup perjalanan epik Lionel Messi di ajang sepak bola terbesar sejagat raya. Meski ia telah memberikan segalanya dan membawa Argentina menjuarai edisi sebelumnya, mimpi untuk mengakhiri karier Piala Dunia dengan satu trofi tambahan harus berakhir dengan kepingan kekecewaan. Ini adalah akhir yang pahit dari sebuah kisah cinta antara sang legenda dan panggung terbesar dunia.