Washington – Kongres Amerika Serikat menghadapi tekanan institusional yang parah. Para anggota parlemen semakin banyak menyerahkan kewenangan konstitusional kepada cabang eksekutif.

Akibatnya, terjadi kebuntuan legislatif yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tingkat persetujuan publik terhadap lembaga legislatif pun mencapai titik terendah dalam sejarah.

>>> HBO Max Rilis Spin-Off Big Bang Theory: Stuart Fails to Save the Universe

Jajak pendapat Gallup terbaru menunjukkan hanya 10% warga Amerika yang menyetujui kinerja Kongres. Banyak anggota parlemen yang frustrasi dan memilih pensiun dini.

Dinamika institusional telah berubah secara mendasar. Model deliberatif yang transformatif bergeser menjadi teater terpusat yang didominasi oleh pimpinan partai dan tindakan eksekutif.

Kritik dari Dalam dan Luar

Carl Hulse, koresponden utama The New York Times di Washington, mengamati bahwa kebencian publik terhadap Kongres sudah mengakar di Capitol Hill.

"Ini hobi besar orang Amerika untuk membenci Kongres," ujarnya.

Hulse menambahkan bahwa banyak anggota Kongres ingin melakukan hal yang benar, tetapi mereka tidak mampu mewujudkannya. Tekanan internal mempersulit tugas legislatif mereka.

Ia mengkritik keputusan mayoritas Republik di Kongres yang menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan Trump. Menurutnya, hal itu mencakup tarif, kewenangan perang, dan hal-hal yang diatur dalam Konstitusi.

"Mereka memberikan segalanya. Begitu kekuasaan diberikan, tidak akan pernah kembali," kata Hulse.

Ia memperingatkan bahwa erosi kemandirian legislatif menciptakan ketidakseimbangan permanen yang akan dimanfaatkan oleh pemerintahan mendatang.

Anggota parlemen dari kedua partai saling menyalahkan atas kebuntuan legislatif. Perwakilan Peter Welch dari Partai Demokrat mengatakan, "Partai Republik tidak mengendalikan DPR; tempat ini kacau."

Senator Katie Britt dari Partai Republik berpendapat sebaliknya. "Partai Demokrat memilih bermain politik dan mengesampingkan kepentingan rakyat," ujarnya.