>>> Gubernur Minnesota Teken UU Izin Sajikan Alkohol di Panti Jompo

Senator Chris Coons dari Partai Demokrat menunjuk langsung ke cabang eksekutif. "Suara paling keras di ruangan, Trump, justru melawan Kongresnya sendiri," katanya.

Melemahnya Kapasitas Legislatif

Sarah Binder, peneliti senior di Brookings Institution, menggambarkan kondisi Kongres saat ini sebagai "kewalahan".

Ia menjelaskan bahwa Kongres memiliki kewenangan besar berdasarkan Konstitusi, seperti kekuasaan anggaran dan menyatakan perang.

Namun, selama puluhan tahun, Kongres menyerahkan kewenangan itu kepada presiden.

"Memori otot untuk membuat kesepakatan, menyusun undang-undang, dan memecahkan masalah sudah ada, tetapi benar-benar mengalami atrofi," kata Binder.

Philip Wallach, peneliti senior di American Enterprise Institute, menyoroti perubahan cara pandang anggota Kongres terhadap tugas mereka. "Yang berubah adalah bagaimana anggota melihat pekerjaan mereka sendiri," ujarnya.

Menurut Wallach, kompromi kini menjadi kata kotor dalam politik Amerika.

Anggota Kongres lebih melihat tugas mereka sebagai mendukung Gedung Putih jika sekutu mereka yang berkuasa, atau melawannya jika partai lawan yang memegang kursi kepresidenan.

Data dari Democracy Project menunjukkan bahwa pendanaan struktural yang kurang menyebabkan staf kantor anggota Kongres sangat terbatas. Jumlah staf tidak bertambah sejak 1975, sementara jumlah konstituen terus membengkak.

Para ahli menyimpulkan bahwa Kongres berada di persimpangan jalan.

>>> Cara Nonton Final Piala Dunia 2026: Live Streaming Gratis di Seluruh Dunia

Ada dorongan dari anggota biasa untuk mendesentralisasikan wewenang, memulihkan sumber daya komite, dan menegaskan kembali peran legislatif berdasarkan Pasal I Konstitusi.