Tim Char mengelompokkan peserta ke dalam lima kelompok berdasarkan seberapa inflamasi pola makan mereka, menggunakan sistem skor empiris standar.

Pola makan pro-inflamasi biasanya mengandung banyak daging olahan, biji-bijian olahan, dan minuman manis, sedangkan pola makan anti-inflamasi menekankan sayuran, kacang-kacangan, dan makanan utuh.

Perbedaan hasil kelangsungan hidup sangat mencolok: pasien dengan pola makan paling pro-inflamasi menghadapi risiko kematian 87% lebih tinggi dibandingkan mereka yang pola makannya paling sedikit inflamasi.

Median kelangsungan hidup untuk kelompok inflamasi tinggi adalah 7,7 tahun, sementara kelompok inflamasi rendah belum mencapai median kelangsungan hidup dasar pada akhir studi.

Menariknya, Char mengamati bahwa aktivitas fisik teratur tampaknya mengurangi dampak negatif dari pola makan buruk, menunjukkan bahwa nutrisi dan gerakan saling berinteraksi.

Secara keseluruhan, temuan ini mengangkat pola makan dan olahraga dari sekadar saran kesehatan umum menjadi komponen konkret pemulihan pasca-kanker.

Meskipun kedua studi belum membuktikan secara definitif bahwa perubahan gaya hidup saja menyebabkan hasil yang lebih baik, keduanya memberikan bukti yang dapat ditindaklanjuti bagi tim onkologi.

>>> Buttonscarves Gelar Tropical Paradise Takeover 2026 Bertema Under The Sea

Gerakan terstruktur dan pola makan anti-inflamasi, yang dipertahankan bersamaan dengan pengawasan medis standar, menawarkan strategi berbasis data bagi pasien untuk membantu mengurangi kekambuhan dan mendukung kelangsungan hidup jangka panjang.