Krisis Rohingya dimulai pada 2017 ketika militer Myanmar melancarkan operasi di Negara Bagian Rakhine. Setidaknya 730.000 orang terpaksa melarikan diri ke Bangladesh.

Myanmar membantah melakukan pelanggaran, tetapi tidak mengakui Rohingya sebagai warga negara.

Situasi mereka memburuk setelah kudeta militer Myanmar pada 2021 yang memicu perang saudara.

Pertempuran telah menyebar ke Negara Bagian Rakhine, di mana orang Rohingya terjebak di antara pasukan pemerintah dan pemberontak Tentara Arakan.

Menurut PBB, hampir 900 pengungsi Rohingya tewas atau hilang di Laut Andaman dan Teluk Benggala tahun lalu.

Angka itu menjadikannya rute laut paling mematikan bagi pengungsi dan migran di dunia.

Tahun ini, UNHCR dan IOM mengatakan hampir 300 orang dilaporkan hilang atau tewas di Laut Andaman dan Teluk Benggala, termasuk pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh.

Pada November tahun lalu, sebuah kapal yang membawa orang Rohingya tenggelam di dekat Langkawi, dekat perbatasan Thailand-Malaysia, dengan hanya sekitar belasan orang selamat.

>>> KPK Ungkap Biang Kerok Banyak Kepala Daerah Terjerat Korupsi

Associated Press melaporkan bahwa badan-badan bantuan terus memperingatkan bahwa tanpa solusi jangka panjang, banyak keluarga Rohingya merasa terpaksa melakukan perjalanan laut berbahaya ini meskipun risikonya tinggi.