Berdasarkan pemantauan BPH Migas bersama PPN pada Jumat sore (17/7), antrean di sebagian besar SPBU di Kota Medan telah berangsur normal.

"Hanya ada dua sampai tiga mobil, artinya hampir mendekati tidak ada antrean. Ini kondisi pada pukul 17.45 WIB," tuturnya.

Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho menjelaskan realisasi penyaluran solar di Sumatera hingga 14 Juli 2026 masih di bawah rerata realisasi nasional.

Kondisi serupa terjadi pada penyaluran pertalite di Sumatera Utara, sehingga persoalan bukan disebabkan keterbatasan kuota.

"Realisasi ini (solar dan pertalite) masih di bawah rata-rata realisasi nasional, artinya tidak ada kendala dari sisi kuota yang telah ditetapkan," terangnya.

>>> Rumah Eks Jampidsus Jadi Kantor Yayasan Dakwah, Febrie Tak Tahu Ada Brankas Emas

Fathul menilai evaluasi perlu difokuskan pada aspek distribusi, termasuk penguatan sistem peringatan dini dan pemantauan armada distribusi secara menyeluruh.

"Kendala ini operasional, operasional distribusi. Perlu ada semacam early warning system.

Selain itu juga seluruh armada terlihat di pemantauan, apakah di jalan atau SPBU," tuturnya.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Sunardi mengatakan seluruh operasional Fuel Terminal Medan Group berjalan kondusif dan dioptimalkan 24 jam.

Sejak 14 hingga 16 Juli 2026, rata-rata penyaluran BBM ke SPBU mencapai lebih dari 6.000 kiloliter per hari.

"Mudah-mudahan peningkatan penyaluran ini dapat menjadi tambahan stok di SPBU sehingga mampu mengurai antrean yang masih terjadi," ujar Sunardi.

Selain penguatan distribusi, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut bersama BPH Migas melakukan pemantauan langsung ke sejumlah SPBU di Medan.

Hasilnya, penyaluran Solar dan Pertalite berlangsung lancar dengan stok yang terus dijaga.