Momen Puncak: Dialog Berujung Haru di Atas Panggung

Bagian paling menyentuh dari peristiwa ini terjadi setelah acara kuliah umum resmi berakhir. Sesuai janjinya, Amran meluangkan waktu lebih dari 15 menit untuk berdialog secara intensif dengan kedua mahasiswa tersebut di atas panggung, disaksikan oleh sisa peserta yang masih bertahan.
 
Dialog ini tidak hanya berkutat pada isu Papua, tetapi berkembang menjadi diskusi yang lebih substantif mengenai persoalan pertanian di Indonesia. Kedua mahasiswa tersebut menyampaikan kegelisahan mereka terkait ketimpangan yang dialami para petani kecil hingga permasalahan komoditas kedelai yang hingga kini masih menjadi tantangan swasembada pangan.
 
Menyikapi hal itu, Amran tidak menjawab dengan retorika kosong. Ia membentangkan data, fakta lapangan, dan capaian konkret yang telah dilakukan oleh pemerintah. Ia menjelaskan kompleksitas masalah dengan transparan, menunjukkan bahwa pemerintah pun menyadari adanya kekurangan dan terus berupaya memperbaikinya.
 
Respons dari kedua mahasiswa tersebut di luar dugaan. Setelah mendengarkan paparan data yang jelas dan terukur, sikap defensif mereka perlahan melunak. Menurut pengakuan Amran kepada wartawan usai acara, penjelasan berbasis fakta tersebut membuat kedua mahasiswa akhirnya memahami posisi dan upaya yang dilakukan pemerintah.
 
"Kami bangga, itu luar biasa. Kritiknya konstruktif. Begitu kami jelaskan pakai data, bukan narasi yang kosong, mereka bilang, 'oh iya, Pak, benar'. Tunjukkan fakta, dan mereka langsung paham," kisah Amran dengan nada yang terdengar haru.
 
Ia bahkan mengungkapkan bahwa ada momen emosional di mana kedua mahasiswa tersebut meneteskan air mata. "Ada dua tiga orang yang menangis, sampai menangis saya terharu. Ternyata mereka cuma ingin tahu apa sebenarnya capaian pemerintah," tambahnya.