Pengemudi tidak hanya bertanya seberapa jauh EV bisa melaju pada hari pertama. Mereka ingin tahu bagaimana kinerjanya setelah lima musim dingin, ratusan pengisian cepat, dan ribuan perjalanan sehari-hari.

Dengan menggabungkan konduktivitas anorganik dengan fleksibilitas polimer, elektrolit gel baru ini mengatasi masalah stabilitas dan umur panjang yang selama ini menghambat adopsi baterai solid-state pada EV.

Penemuan ini tidak berarti EV solid-state akan membanjiri dealer dalam semalam.

Sejarah baterai penuh dengan hasil laboratorium impresif yang butuh waktu bertahun-tahun untuk menjadi produk, dan beberapa tidak pernah berhasil sama sekali.

Dongfeng dilaporkan menargetkan paruh kedua 2026 untuk produksi massal dan integrasi kendaraan baterai solid-state yang bisa mendukung jarak tempuh lebih dari 620 mil.

Kepadatan energinya dilaporkan 350 watt-jam per kg.

Di sisi lain, CATL lebih berhati-hati.

Komentar dari ketua CATL Robin Zeng menunjukkan bahwa produsen baterai EV terbesar di dunia melihat penerapan solid-state skala besar belum mungkin terjadi sebelum 2030, karena teknologi masih menghadapi kendala manufaktur, biaya, dan kesiapan.

Untuk sebagian besar, EV sudah membantu mengurangi permintaan minyak.

IEA memperkirakan armada EV global menggantikan sekitar 1,7 juta barel minyak per hari pada 2025, kira-kira setara dengan total permintaan minyak Indonesia tahun itu.

Fase elektrifikasi berikutnya akan dinilai dari lebih dari sekadar grafik penjualan.

>>> Kronologi Lengkap Sopir Ojol Tewas di Tangerang: Awalnya Niat Bunuh Diri, Berubah Jadi Pembunuhan Brutal demi Motor

Konsumen, produsen mobil, operator armada, dan pemerintah akan melihat ketahanan baterai, kecepatan pengisian, keamanan, bahan baku, dan material.