Permusuhan antara Iran dan AS kembali berkobar pekan lalu. Hal ini merusak gencatan senjata rapuh yang sempat disepakati pada Juni setelah pertempuran selama beberapa bulan.

Para analis menilai Iran mungkin akan mengerahkan sekutu Houthi di Yaman untuk menutup gerbang Bab al-Mandab menuju Laut Merah.

Langkah ini berisiko membuka front baru melawan Washington sekaligus mengancam dua urat nadi energi paling vital di dunia.

Goldman Sachs memproyeksikan harga Brent bisa menembus di atas US$110 per barel pada kuartal IV 2026 jika pemulihan ekspor di Teluk terus mandek.

Namun, harga juga bisa merosot ke kisaran US$60-an pada akhir tahun jika ketegangan mereda dan produksi pulih lebih cepat.

Di sisi lain, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS menyusut 1,7 juta barel dalam pekan yang berakhir hingga 10 Juli.

>>> AS Jual Senjata Rp44 T ke Saudi-Kuwait saat Perang Lawan Iran Memanas

Penurunan ini lebih rendah dari ekspektasi analis yang memperkirakan penyusutan hingga 2,6 juta barel.