Penelitian Anthropic berharga karena tidak hanya mengandalkan bias psikologis kita, tetapi mencari tanda pemrosesan informasi sadar yang mungkin dimiliki bersama manusia dan mesin.

>>> Tecno Pova 8 Resmi Meluncur di Indonesia, Baterai 8.000 mAh Jadi Andalan

Namun, masih ada banyak perbedaan antara Claude dan manusia.

Temuan Anthropic belum memenuhi persyaratan global workspace theory, misalnya tidak ada aktivitas berulang (recurrent) seperti yang terlihat di otak manusia.

Perbedaan mendasar lainnya: Claude adalah program komputer yang berjalan di silikon, sedangkan kita adalah makhluk hidup. Otak kita tertanam dalam tubuh yang terbenam di dunia.

Kemungkinan AI sadar bergantung pada asumsi bahwa kesadaran adalah soal komputasi, dan komputasi yang bertanggung jawab atas kesadaran pada kita bisa diimplementasikan di silikon.

Namun, semakin dekat kita melihat otak asli, semakin jelas bahwa otak bukan sekadar komputer dari daging.

Pada otak, tidak bisa memisahkan secara bersih apa yang dilakukan (perangkat lunak) dari apa yang mereka ada (perangkat keras).

Ini berarti apa yang dilakukan otak tidak mungkin hanya soal komputasi.

Metafora komputer untuk otak memang kuat, tetapi tetap metafora. Masalah muncul ketika kita mengacaukan metafora dengan hal yang sebenarnya.

Menurut Anil Seth, profesor neurosains kognitif dan komputasi di University of Sussex, penelitian Anthropic menunjukkan bahwa otak hidup dan komputer silikon bisa menghasilkan solusi serupa saat menghadapi masalah serupa.

Namun, pemrosesan informasi di dalam Claude tidak lebih mungkin menghasilkan kesadaran daripada simulasi sistem cuaca menghasilkan badai sungguhan.

AI semakin kuat setiap hari.

Namun, untuk menavigasi dunia baru ini, kita harus ingat betapa berbedanya kita dari ciptaan kita yang hampir ajaib.

>>> Jetour T1 Terjual 800 Unit, Sisa Kuota Harga Spesial Segera Berakhir

Menjual pikiran kita terlalu murah ke mesin tidak hanya membuat kita melebih-lebihkan mereka, tetapi juga meremehkan diri sendiri.