Menyikapi gelombang kritik yang semakin meluas, pihak SMK PGRI 5 Denpasar tidak tinggal diam. Kepala SMK PGRI 5 Denpasar, Nuning Kurniawati, secara sigap mengambil langkah konkret dengan memerintahkan tim internal untuk melakukan penelusuran dan investigasi mendalam terkait laporan yang beredar di masyarakat.
 
Dalam keterangan resminya, Nuning mengonfirmasi bahwa hasil penyelidikan awal memang menemukan adanya sejumlah oknum siswi yang memasang foto tidak sesuai dengan pedoman penggunaan twibbon MPLS yang telah ditetapkan oleh sekolah.
 
"Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Pihak sekolah telah melakukan penelusuran dan kami menemukan bahwa memang ada beberapa siswa yang melanggar aturan terkait foto profil twibbon," ungkap Nuning, menegaskan komitmen sekolah untuk menjaga integritas dan nama baik institusi.
 
Pembinaan dan Ultimatum: Ganti Foto atau Hadapi Sanksi Lebih Lanjut
 
Nuning menekankan bahwa aturan mengenai tata cara pembuatan dan penggunaan twibbon MPLS sebenarnya telah disosialisasikan secara jelas oleh panitia sebelum kegiatan dimulai. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah kewajiban menggunakan foto dengan pakaian yang sopan, rapi, dan tertutup, sesuai dengan kode etik siswa.
 
Bagi oknum yang terbukti melanggar, pihak sekolah tidak main-main. Langkah persuasif berupa pemanggilan dan pembinaan karakter telah dilakukan. Siswa yang bersangkutan telah diberi pemahaman mendalam mengenai pentingnya menjaga citra diri dan institusi, serta diperintahkan untuk segera mengganti foto tersebut.
 
"Tadi pagi saya sudah menjelaskan langsung di depan umum. Begitu juga dengan Badan Pengelola Harian SMK PGRI 5 Denpasar. Kami berikan tenggat waktu. Kalau seandainya nanti sore foto tersebut belum juga diganti, kami akan melakukan evaluasi lebih lanjut. Jika masih bandel, kami akan adakan pemanggilan resmi bersama orang tua," tegas Nuning dengan nada serius.