Muatan kapal terdiri dari porselen Cina dalam jumlah besar, termasuk piring dan mangkuk biru-putih. Beberapa bagian masih tersusun rapi, sebuah detail yang langsung menarik perhatian peneliti.

Selain porselen, ditemukan juga barang pecah belah, bagian lampu gantung, tekstil, biji-bijian, dan wadah berisi zat yang mungkin termasuk teh, kopi, kakao, obat-obatan, atau rempah.

Beberapa peti belum dibuka, sehingga kapal mungkin masih menyimpan kejutan.

Barang-barang ini bukan muatan curah biasa seperti kayu, besi, atau ikan yang sering ditemukan di bangkai kapal Eropa utara pada periode yang sama.

Muatan ini mencerminkan dunia komersial yang lebih luas tentang selera, status, dan konsumsi.

Porselen itu berasal dari Cina, tetapi kapal itu sendiri mungkin tidak pernah berlayar ke Asia Timur.

Arkeolog menduga kapal itu adalah kapal dagang regional yang beroperasi di Eropa utara. Kapal mungkin mengambil barang impor dari pusat perdagangan utama seperti Amsterdam, Kopenhagen, atau Gothenburg.

>>> Spurs Resmi Perpanjang Kontrak Victor Wembanyama hingga 2032

Petunjuk berasal dari jerami padi yang ditemukan bersama kemasan porselen. Itu menunjukkan barang-barang telah melakukan perjalanan dari Asia dalam bahan pelindung asli mereka.

Namun, saat mencapai kapal yang lebih kecil ini, barang-barang itu mungkin telah melewati lelang, gudang, dan beberapa tangan.

Kapal itu mungkin adalah galliot, sejenis kapal dagang kecil yang digunakan di perairan Eropa utara. Nama, pemilik, rute, dan tujuannya masih belum diketahui.

Sebuah batu bata dari dapur kapal menunjukkan hubungan dengan Lübeck di Jerman, tetapi itu saja tidak dapat membuktikan di mana kapal itu dibangun atau didaftarkan.

Berdasarkan muatan dan artefak yang ditemukan, peneliti percaya kapal itu tenggelam sekitar pertengahan abad ke-18, kemungkinan sekitar tahun 1750.