Penerbit CBI menulis, "Sejarah biasanya mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang nyaris dilupakan."

Keunikan buku ini terletak pada bentuk puisi esai, genre yang memadukan puisi naratif dengan catatan kaki berbasis fakta sejarah.

Setiap puisi dibangun dari peristiwa yang terdokumentasi, sementara bahasa puitis menghadirkan pengalaman emosional para korbannya.

Menurut penerbit, pendekatan tersebut membuat pembaca tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga merasakan dimensi kemanusiaan di balik setiap tragedi.

Salah satu puisi dalam buku ini mengisahkan keluarga Nguyen, pengungsi Vietnam yang mengarungi Laut Cina Selatan.

>>> Mahfud MD Akui Terkecoh dengan Pengalihan Kasus Febrie Adriansyah dari Polri ke Kejagung

Di tengah ombak dan ancaman kematian, sang ayah hanya mampu meminta putrinya memejamkan mata dan membayangkan sebuah negeri yang ramah.

Penerbit CBI menyatakan, "Statistik mampu mengejutkan, tetapi satu wajah manusia sering kali jauh lebih sulit dilupakan daripada jutaan angka."

Karena itu, buku ini dinilai memiliki daya jangkau yang universal.

Tangisan seorang ibu di Hiroshima dapat dipahami di Brasil, ketakutan seorang anak Yahudi dapat dirasakan di Mesir, sementara harapan seorang pengungsi Vietnam dapat dimengerti di Afrika Selatan.

Ari Nugroho mengatakan dunia saat ini membutuhkan lebih banyak karya yang mampu membangun empati lintas budaya.

Dua Tahap Penerjemahan

Proyek penerjemahan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama telah rampung dengan enam bahasa utama dunia, yakni Inggris, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, dan Mandarin.

Bahasa-bahasa tersebut dipilih karena memiliki cakupan pembaca yang luas sekaligus merupakan bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bahasa kerja negara-negara BRICS.

Tahap kedua akan memperluas penerjemahan ke 29 bahasa lain di Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan Oseania. Target penyelesaiannya adalah akhir 2027.