Militer Amerika Serikat kembali meningkatkan operasi militernya terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.

Eskalasi ini terjadi setelah pasukan Iran mengklaim telah menutup jalur pelayaran strategis tersebut, yang mengancam upaya diplomatik yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir.

>>> Minecraft Summer Sale 2026: Diskon Hingga 75% di Marketplace

Menurut Komando Pusat AS (Centcom), gelombang serangan terbaru dimulai pada Minggu pukul 21.00 GMT dengan tujuan melemahkan kemampuan Iran menargetkan kapal sipil.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan ini merupakan cara untuk membuat Iran bertanggung jawab. “Kami menghajar mereka,” ujarnya.

Sebagai balasan, Iran menyerang fasilitas militer AS di berbagai wilayah Teluk dan kembali menegaskan klaimnya telah menutup jalur perairan vital tersebut.

Meskipun kekerasan kembali terjadi, Centcom melaporkan bahwa sejumlah kapal masih tetap berlayar melalui Selat Hormuz.

>>> Apple Siapkan Chip M6, M7, M8 dengan Fokus AI On-Device

Serangan Besar-besaran dan Dampak Diplomatik

Centcom mengungkapkan bahwa sekitar 140 serangan dilancarkan terhadap sasaran Iran pada Sabtu malam saja, menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang sedang berlangsung.

Pengawal Revolusi Iran kemudian mengklaim telah menyerang berbagai target di Yordania, Kuwait, Oman, dan Qatar.

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan AS dan menyatakan bahwa tindakan tersebut “telah menggagalkan semua upaya beberapa bulan terakhir untuk mengurangi ketegangan dan membangun perdamaian di kawasan Asia Barat.”

>>> 100 Nama Jepang Keren untuk Nickname Free Fire, Unik dan Bermakna

Kementerian itu juga menuduh AS memperburuk ketidakamanan di Selat Hormuz.