Lee Ji-haeng, asisten profesor di Departemen K-Entertainment Jeonbuk National University (JBNU) dan pakar studi fandom, menilai bahwa kekuatan terbesar ARMY bukanlah organisasi atau kemampuannya untuk bergerak, melainkan ketangguhannya.

Pernyataan itu disampaikan Lee dalam wawancara tertulis dengan The Korea Times, di tengah reputasi ARMY sebagai fandom yang sangat terorganisir.

>>> Penyanyi Bass Korea Yoo Seung-ho Raih Juara Kedua di Kompetisi Menyanyi Internasional Sumi Jo di Prancis

Terbentuk pada 2013 tak lama setelah debut BTS di bawah agensi yang saat itu belum dikenal, ARMY tumbuh dari klub penggemar lokal menjadi komunitas penggemar paling berpengaruh di musik populer.

Fandom ini telah mendorong rekor streaming, kampanye voting, dan bahkan penggalangan dana amal yang terkoordinasi.

Meskipun demikian, ARMY juga tidak luput dari konflik.

Lee mengakui bahwa seperti komunitas daring lainnya, ARMY memiliki kebiasaan ruang anonim tempat perselisihan dan permusuhan bisa muncul.

Namun, yang membedakan ARMY bukanlah ketiadaan ketegangan, melainkan kemampuannya untuk pulih.

“Yang paling mengejutkan saya sebagai peneliti adalah ARMY adalah komunitas dengan kapasitas luar biasa untuk mengoreksi diri, merefleksikan apa yang terjadi setelah konflik, dan mengusulkan alternatif,” kata Lee.

Ia menduga hal itu karena ARMY, sadar atau tidak, mencoba mencari arah dengan memproyeksikan dirinya pada BTS.

Hubungan Spiritual di Antara ARMY

Lee percaya ketangguhan itu berakar pada sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.

Meskipun BTS tumbuh secara global dan basis penggemarnya semakin beragam, konser dan tur dunia terus menghasilkan rasa hubungan yang hampir spiritual.

“Perasaan bahwa individu-individu berbeda dari seluruh dunia, dengan perbedaan mencolok, merasa terhubung sebagai satu komunitas melalui BTS masih menjadi misteri yang belum terpecahkan,” ujarnya.