“Itu adalah momen ketika komunitas rasa tiba-tiba terasa seperti komunitas keyakinan.”

BTS sebagai Studi Kasus Komunitas Digital

Lee menyampaikan pengamatan ini setelah menjadi pembicara utama di konferensi BTS: A Global Interdisciplinary Conference kelima yang digelar pada 2-3 Juli di JBNU, Jeonju.

Lee adalah penulis buku “BTS and ARMY Culture” (2019) yang mencatat lintasan fandom global dan politik budaya saat BTS menembus pasar Barat.

Buku itu telah diterbitkan di tujuh negara.

Lee juga memiliki identitas ganda: ia adalah ARMY sendiri, mengamati komunitas sebagai anggotanya.

Konferensi yang diadakan oleh International Society for BTS Studies itu tahun ini menghadirkan 50 presenter dari 10 negara.

Pidato utama Lee mengeksplorasi signifikansi budaya dari “babak baru” BTS setelah para anggota menyelesaikan wajib militer.

Menurut Lee, melalui penelitian teoretis dan empiris tentang fenomena BTS dan ARMY, terbuka area baru penelitian konvergen dan interdisipliner.

Para sarjana kini mencari perspektif akademis segar tentang komunitas BTS-ARMY di luar paradigma rasionalis Barat, termasuk dalam studi pascakolonial, studi afek, kewarganegaraan, translanguaging, dan hubungan internasional.

Bagi Lee, BTS bukan lagi sekadar aksi K-pop yang sukses.

Grup dan fandomnya telah menjadi studi kasus berharga untuk memahami bagaimana komunitas terbentuk, berevolusi, dan bertahan di dunia digital yang semakin terhubung.

Sebelum pandemi COVID-19, BTS adalah pencilan di pasar musik global dengan fandom yang kuat, namun karakternya di luar Asia lebih dekat ke budaya niche.

Pandemi mengubah persepsi itu dan mantap menempatkan grup di pasar musik arus utama.

>>> AHAVERSE Umumkan Manhua Spin-Off Cheap-Life Hua dan Acara Musik Tahunan Chicken Island Party