Netizen Menyerang: Dituding Hampir DO

Pernyataan mengenai absensi tersebut seketika menjadi bensin yang menyulut api perdebatan di kolom komentar. Warganet menilai pernyataan itu tidak tepat, mengingat program S-3 menuntut dedikasi dan kedisiplinan tingkat tinggi. Banyak yang mempertanyakan logika Sabrina mengambil program doktor jika pada akhirnya tidak bisa dijadikan prioritas.
 
"Maksud? Ya kalau S3 nggak masuk prioritas ngapain diambil apalagi kalau dari awal ngambil jalur reguler. Ya emang absensi jadi masuk perhitungan nilai. Kalau dibandingin sama negara lain kenapa nggak ambil di sana saja. Semua kampus punya kurikulum dan kebijakan masing-masing," tulis seorang warganet dengan nada kesal.
 
Tak berhenti sampai di sana, spekulasi liar pun bermunculan. Sebagian warganet yang bermain detektif menduga bahwa alasan sebenarnya Sabrina mundur adalah karena ia terancam Drop Out (DO) akibat tunggakan absensi yang parah.
 
"Kayaknya mundur karena hampir DO, kayaknya kebanyakan absen. Daripada DO mending mundur di awal ya kan," tuding salah satu akun di media sosial, menuduh perempuan 33 tahun tersebut tidak serius dalam menuntut ilmu.
 

Klarifikasi Tegas: Bantah Isu DO dan Ungkap Perubahan Hidup

Tudingan miring tersebut tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dengan tegas, Sabrina langsung merespons di kolom komentar untuk meluruskan kesalahpahaman yang mulai liar tersebut. Ia membantah keras anggapan bahwa dirinya mundur karena masalah akademik atau ancaman DO.
 
"Nggak ada yang hampir DO mbak :) boleh dicek di UI langsung. Soal absensi hanya harapan ke depannya. Selama saya kuliah semua tetap memenuhi syarat," tegas Sabrina dengan nada yang tenang namun meyakinkan.
 
Lebih jauh, ibu dari Azka Corbuzer ini akhirnya menyingkap alasan sebenarnya di balik pengunduran dirinya. Di balik citra publiknya yang selalu ceria dan sukses, Sabrina ternyata sedang menghadapi guncangan besar dalam kehidupan pribadinya. Perubahan drastis dalam rumah tangga dan statusnya sebagai orang tua tunggal memaksanya untuk meredefinisi prioritas hidup.
 
"Kebetulan hidup saya tiba-tiba ada perubahan besar, dan nggak seberuntung kamu yang punya keluarga utuh. Saat ini prioritas saya berubah, harus kerja keras karena punya tanggung jawab yang besar," curhat Sabrina, mengisyaratkan beban berat yang harus ia tanggung sendirian pasca perubahannya tersebut.