Tingkat full mission capable bahkan merosot dari 38% menjadi 25% dalam periode yang sama. Artinya, lebih sedikit pesawat yang siap menjalankan semua misinya.

Masalah rantai pasokan menjadi penyebab utama. GAO menggambarkan sistem pemeliharaan F-35 sebagai jaringan global suku cadang, gudang, kontraktor, dan layanan militer.

Kantor Program Gabungan telah meluncurkan rencana pemeliharaan baru bernama Global Support Solution Reset.

GAO memperkirakan rencana itu membutuhkan tambahan $13,7 miliar hingga tahun fiskal 2031, dengan $7,3 miliar untuk suku cadang dan material tambahan.

Setiap komponen tambahan harus diproduksi, dikirim, disimpan, dilacak, diperbaiki, dan kadang diganti lagi. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang dampak lingkungan dari rantai pasokan yang panjang.

Polandia terus memperkuat program F-35-nya.

Defence24 melaporkan Warsawa tengah melaksanakan kontrak 32 pesawat tahun 2020 dan berencana menambah 32 lagi pada 2039, sehingga total menjadi 64 unit.

Sementara itu, Swiss justru mengurangi jumlah pembelian.

Reuters melaporkan Swiss kini hanya akan membeli sekitar 30 jet F-35A, enam lebih sedikit dari rencana awal, karena kenaikan biaya.

>>> Cara Cek Jadwal Resmi Pencairan Bansos Tahap 3 Tahun 2026

Pemerintah Swiss juga meminta tambahan kredit sekitar $505 juta dari parlemen.