Apel mengandung gula alami, terutama fruktosa, tetapi juga dikemas dengan serat dan air. Kombinasi ini mengubah cara tubuh memproses buah tersebut.

Dibandingkan dengan minuman manis atau makanan penutup, apel utuh dicerna lebih lambat dan cenderung tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang tajam.

Serat memperlambat penyerapan glukosa ke aliran darah, sementara volume dan proses mengunyah membuat camilan lebih mengenyangkan.

Penderita diabetes biasanya masih bisa memasukkan apel dalam diet seimbang, tetapi tetap perlu menghitung karbohidrat dan mengikuti saran medis.

Pilihan tersehat biasanya adalah apel utuh, bukan jus apel, saus apel manis, atau makanan penutup berbahan apel.

Mendukung Kolesterol dan Kesehatan Jantung

Salah satu nutrisi paling menarik dalam apel adalah pektin, serat larut yang dapat mengikat kolesterol di saluran pencernaan.

Ini membantu tubuh membuang kolesterol daripada menyerapnya kembali.

Apel juga mengandung polifenol, termasuk quercetin, catechin, dan asam klorogenat. Senyawa tanaman ini diteliti karena efek antioksidan dan anti-inflamasinya.

>>> Teleskop Euclid Temukan 31 Quasar Kuno di Alam Semesta Awal

Meskipun bukan pengganti obat atau gaya hidup sehat jantung, apel dapat berkontribusi pada efek perlindungan dari diet kaya buah dan sayur.

Manfaatnya lebih jelas jika apel menggantikan camilan olahan seperti kue kering atau permen.

Membantu Kenyang dengan Kalori Rendah

Apel ukuran sedang mengandung sekitar 95 kalori dan kadar air tinggi. Karena perlu dikunyah dan mengandung serat, apel cenderung lebih mengenyangkan daripada banyak camilan dengan kalori yang sama.

Ini dapat membantu mengontrol nafsu makan, terutama di antara waktu makan.

Memadukan apel dengan sumber protein atau lemak, seperti selai kacang, yogurt Yunani, keju, atau kacang-kacangan, membuat camilan lebih memuaskan.