Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Johnner Sitompul mengingatkan bahwa hingga kini belum ada bukti klinis yang secara langsung mengaitkan paparan Bisphenol A (BPA) dari galon polikarbonat (PC) dengan gangguan hormon, reproduksi, dan kanker pada manusia.

Bahkan BPOM sendiri belum pernah melakukan kajian terkait hal tersebut. Masyarakat perlu kritis membedakan BPA sebagai senyawa berdiri sendiri dengan BPA sebagai unsur pembentuk kemasan.

>>> PDIP Soroti Defisit APBN 2025 Jebol dan Utang Rp9.658 Triliun

BPA sebagai bahan pencampur plastik polikarbonat sangat sulit terlepas dari ikatan plastiknya, sehingga kecil kemungkinan terjadi migrasi, apalagi dalam suhu normal.

PC adalah bahan kemasan yang tahan panas dan digunakan sebagai kemasan guna ulang yang lebih ramah lingkungan.

"Riset itu (bahaya galon PC) belum terlihat, yang banyak itu risiko BPA terhadap bayi, terhadap kelenjar-kelenjar atau hormon terhadap obesitas BPA-nya ya, bukan polikarbonatnya," kata Johnner Sitompul di Jakarta.

Guru Besar jebolan University of Wales ini menjelaskan bahwa BPA merupakan zat pembentuk yang berubah bentuk saat menjadi polikarbonat.

Belum ada penelitian yang membuktikan polikarbonat dalam bentuk galon dapat terurai kembali menjadi BPA saat bersentuhan dengan air.

Penelitian yang selama ini berkembang justru masih berfokus pada BPA sebagai senyawa tersendiri, bukan pada galon polikarbonat yang digunakan sebagai wadah air minum.

Padahal, senyawa pembentuk (monomer) yang tergabung dalam polikarbonat berubah dan memiliki karakteristik yang jauh lebih stabil.

Materi polikarbonat dibentuk melalui reaksi polimerisasi sehingga memiliki ikatan kuat dan tidak mudah luruh atau rusak apabila digunakan sebagai kemasan pangan.

Berbeda dengan materi tertentu yang hanya terbentuk melalui reaksi fisik sehingga memiliki ikatan yang lemah.