Marine Le Pen Terpidana tapi Tetap Maju Pilpres, Lawan Politik Belum Ada yang Kredibel

Marine Le Pen, tokoh utama partai sayap kanan National Rally (RN), resmi dinyatakan bersalah atas penggelapan dana publik oleh pengadilan banding Prancis.
Meski demikian, ia tetap menyatakan akan maju sebagai calon presiden dalam pemilu 2027.
>>> Penumpang Alaska Airlines Mengaku Bersalah Serang dengan Senjata Tajam Rakitan
Pengadilan banding memvonis Le Pen dengan denda €100.000 dan hukuman penjara yang dikurangi menjadi satu tahun dengan pengawasan elektronik.
Vonis ini mempersingkat larangan mencalonkan diri dari lima tahun menjadi lebih pendek, sehingga Le Pen masih bisa ikut kontestasi.
Keputusan Kontroversial dan Dilema Moral
Awalnya, Le Pen sempat dihadapkan pada dilema: memenuhi janji tidak berkampanye dengan gelang elektronik, atau menyerahkan kursi kepada anak didiknya, Jordan Bardella.
Namun hanya dalam beberapa jam, ia memutuskan untuk tetap maju dan mengajukan banding ke pengadilan tertinggi agar tidak perlu memakai alat pelacak.
Le Pen tampil di berita malam dengan tegas menyerahkan keputusan kepada pemilih Prancis.
Ia menyebut vonis tersebut sebagai bagian dari upaya sistem untuk menghalangi kehendak rakyat.
Ancaman bagi Demokrasi Prancis dan Eropa
Keputusan Le Pen untuk maju dinilai lebih berbahaya dibanding jika Bardella yang menjadi calon.
>>> Presiden Erdogan Ternyata Pernah Jadi Pemain Bola Profesional
Pengalaman kampanye Le Pen jauh lebih matang, dan ia dipandang lebih agresif terhadap Uni Eropa serta lebih dekat dengan Rusia.
Jika menang, Le Pen diperkirakan akan menggunakan kekuasaan presiden yang besar untuk melemahkan institusi demokrasi.
Perbandingan dengan Giorgia Meloni di Italia dinilai tidak tepat karena presiden Prancis memiliki wewenang jauh lebih besar.
Kemenangan Le Pen akan menjadi gempa politik di jantung Eropa.
Sementara itu, partai-partai lain masih gagal menyatukan kandidat yang kredibel untuk menghadapi Le Pen di putaran kedua.
Kiri dan kanan arus utama masih sibuk dengan persaingan internal, diperparah oleh manuver pemimpin kiri radikal Jean-Luc Mélenchon.
>>> OJK Wanti-wanti PFII Tak Senggol Dana Nasabah Domestik
Padahal, kemampuan partai lain untuk bersatu menjadi penentu apakah Prancis akan memiliki presiden dari kalangan populis sayap kanan.
Update Terbaru
Sana TWICE Debut Akting, Beradu Peran dengan Takeru Satoh di Film Nyangi
Kamis / 09-07-2026, 15:21 WIB
Bath & Body Works Tunjuk Hilary Duff sebagai Mitra Kreatif
Kamis / 09-07-2026, 15:21 WIB
Live-Action Love is Better the Second Time Around Dapat Season 2
Kamis / 09-07-2026, 15:19 WIB
HBO Kembangkan Drama Pembunuh Berantai Dorothea Puente, Dibintangi Geena Davis
Kamis / 09-07-2026, 15:18 WIB
Zimbabwe Incar Kemenangan Seri, Bangladesh Berjuang Atasi Krisis Batting
Kamis / 09-07-2026, 15:18 WIB
Manga Go! Go! Loser Ranger! Hiatus hingga Agustus karena Kesehatan Kreator
Kamis / 09-07-2026, 15:14 WIB
Ohio Lottery Umumkan Nomor Pemenang untuk Pengundian 8 Juli
Kamis / 09-07-2026, 15:13 WIB
Bandai Namco Rilis Sword Art Online Echoes of Aincrad pada Juli 2026
Kamis / 09-07-2026, 15:13 WIB
Arus Keluar Bersih ETF Bitcoin Spot AS Capai 85 Juta Dolar
Kamis / 09-07-2026, 15:09 WIB
Gugatan Diskriminasi Agama terhadap Alaska Airlines Dihidupkan Kembali oleh Pengadilan Banding AS
Kamis / 09-07-2026, 15:08 WIB
20 Game Penghasil Uang 2026 Terbukti Membayar Langsung ke Rekening
Kamis / 09-07-2026, 15:08 WIB
Duel Panas Smartphone Rp3 Jutaan: Perbandingan Infinix Hot 70 vs iQOO Z10R 5G, Mana yang Paling Layak Ditebus?
Kamis / 09-07-2026, 15:08 WIB
Minecraft Update 2026 Akhirnya Hadirkan Fitur Duduk Setelah 17 Tahun
Kamis / 09-07-2026, 15:08 WIB
First Day of School Artinya Apa? Ini Penjelasan Lengkapnya
Kamis / 09-07-2026, 15:07 WIB







