Rusia resmi melarang ekspor diesel pada Rabu (16/7) menyusul serangan drone Ukraina yang sistematis terhadap kilang-kilang minyak di wilayah Rusia.

Kebijakan ini diambil setelah serangan tersebut memicu kelangkaan bensin dan lonjakan harga bahan bakar di sejumlah daerah Rusia.

>>> Minecraft Club di Warminster 9 Juli 2026: Gratis untuk Anggota YMCA

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengakui situasi di SPBU telah menimbulkan kekhawatiran masyarakat.

"Jelas bahwa situasi saat ini di SPBU menimbulkan kekhawatiran di kalangan publik," ujar Novak dalam rapat pemerintah yang dipimpin Presiden Vladimir Putin.

Sementara itu, serangan balasan Rusia ke Ukraina pada Rabu pagi menewaskan sedikitnya tiga orang di Kyiv dan empat orang di Odesa.

Rudal dan drone jet Rusia juga menghantam Kharkiv, menewaskan dua orang di sebuah bangunan tempat tinggal.

>>> Pertamina dan Boeing Jajaki Ekosistem SAF untuk Aviasi Rendah Emisi

Serangan udara ini bertepatan dengan KTT NATO di Ankara, di mana Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy membahas lisensi produksi pencegat rudal dengan Donald Trump.

Moskwa mengecam bantuan militer NATO ke Ukraina dan memperingatkan konsekuensi geopolitik yang parah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menyesalkan keputusan NATO yang dinilainya tidak bertanggung jawab.

"Sangat disayangkan, karena jika para ahli strategi NATO berhenti sejenak dan berpikir, mereka mungkin tidak akan membuat keputusan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menyebabkan bencana tidak hanya bagi aliansi, tetapi bagi seluruh dunia," kata Zakharova.

>>> Rating TV Terbaru per Kamis, 9 Juli 2026: Euforia Timnas U17 dan D'Academy Guncang Layar Kaca, Sinetron SCTV Masih Tak Terkalahkan

Komitmen AS untuk mengizinkan produksi pencegat rudal Patriot secara lokal masih samar, tanpa ada pembicaraan langsung dengan produsen utama Lockheed Martin dan RTX Corporation.