Salah satu kekhawatiran terbesar adalah terkait preservasi game.

Game digital rentan untuk hilang dari toko online jika lisensi berakhir, pengembang tutup, atau platform memutuskan untuk menghapusnya.

>>> Uni Eropa Buka Suara soal Ambisi Trump Caplok Greenland

Ini berbeda dengan game fisik yang bisa tetap dimainkan selama konsolnya berfungsi, menjadikannya warisan budaya yang lebih abadi.

Dari sisi ekonomi, dominasi digital berpotensi mengurangi persaingan harga.

Tanpa adanya pengecer fisik yang menawarkan diskon atau promosi untuk menarik pembeli, Sony dan penerbit game memiliki kendali lebih besar atas harga.

Hal ini bisa berujung pada harga game yang lebih tinggi bagi konsumen.

Selain itu, ini juga akan membatasi pilihan konsumen dan meningkatkan monopoli distribusi game oleh platform seperti PlayStation Store.

Masa Depan PlayStation di Era Tanpa Disc Fisik

Langkah Sony untuk bergerak menuju era tanpa disc fisik bukan hal yang mengejutkan, mengingat kesuksesan PlayStation 5 Digital Edition dan tren umum di industri hiburan yang beralih ke streaming dan unduhan digital.

Masa depan konsol PlayStation kemungkinan akan semakin ramping, lebih hemat biaya produksi, dan sepenuhnya terintegrasi dengan ekosistem digital mereka.

Ini juga akan membuka peluang untuk model bisnis baru, seperti langganan game yang lebih luas atau layanan cloud gaming yang lebih canggih.

Namun, tantangan terbesar bagi Sony adalah bagaimana mempertahankan loyalitas konsumen yang masih menghargai media fisik.

Mereka perlu menawarkan nilai tambah yang signifikan pada ekosistem digitalnya, seperti harga yang lebih kompetitif, fitur kepemilikan yang lebih jelas, atau layanan berlangganan yang menarik.

>>> IOC Cabut Sementara Penangguhan Rusia, Bisa Ikut Olimpiade Lagi?

Persaingan dari platform lain yang masih menawarkan opsi fisik atau memiliki model digital yang lebih matang, seperti PC gaming, juga akan menjadi pertimbangan penting bagi strategi jangka panjang PlayStation.