Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Stella Christie membantah klaim bahwa 60.000 calon mahasiswa gagal melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri (PTN) karena faktor ekonomi.

Ia menjelaskan, pada 2025 tercatat ada 60.000 kuota di PTN yang tidak terisi. Dari jumlah tersebut, hanya 17.800 calon mahasiswa yang benar-benar tidak melakukan registrasi ulang.

>>> 4 Serum Pilihan Dokter Estetika untuk Memudarkan Noda Hitam

Sisanya sebanyak 42.315 kuota tetap kosong, namun bukan karena calon mahasiswa tidak mendaftar ulang.

Penyebab Beragam, Bukan Semata Ekonomi

Stella menegaskan, ada banyak alasan mengapa 17.800 calon mahasiswa tidak melakukan daftar ulang. Penyebabnya beragam dan tidak bisa disimpulkan semata-mata karena faktor ekonomi.

Ia menyebut sebagian calon mahasiswa memilih menerima beasiswa dari instansi lain atau perguruan tinggi kedinasan.

Ada pula yang memilih kuliah di perguruan tinggi swasta karena program studi yang lebih sesuai.

"Kalau dibilang 17.815 itu semuanya karena keadaan ekonomi, ini tidak benar juga," kata Stella di Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Stella mengakui ada sebagian mahasiswa yang sebelumnya mengajukan KIP Kuliah namun tidak lolos.

Meski demikian, pemerintah telah menyediakan skema Uang Kuliah Tunggal (UKT) rendah untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

Ia menekankan, UKT level 1 dibatasi maksimal Rp500 ribu per semester, sedangkan UKT level 2 maksimal Rp1 juta per semester.

"Secara rata-rata di PTN Indonesia itu 30% mahasiswanya berada pada UKT level 1 dan 2," ujarnya.

Ia menambahkan, jika ada mahasiswa yang benar-benar mengalami kesulitan ekonomi namun tidak memperoleh UKT level 1 atau 2, kondisi tersebut harus diperjuangkan melalui mekanisme yang tersedia.