Efek Domino dari Sebuah Kejujuran

Mengapa Rasulullah SAW begitu menekankan pentingnya kejujuran? Jawabannya terletak pada "efek domino" dari sebuah perbuatan.
 
Merujuk pada hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud RA, Rasulullah SAW bersabda:
 
"Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha menjaga kejujuran hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur (Shiddiiq). Dan jauhilah dusta, karena dusta menuntun kepada keburukan, dan keburukan menuntun ke neraka..." (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Ulama besar, Syekh Rasyid Ahmad al-Kankuhi, dalam kitabnya menjelaskan bahwa kebiasaan melakukan satu sifat baik akan menarik seseorang pada sifat baik lainnya. Orang yang terbiasa jujur akan otomatis menjadi lebih amanah, lebih hati-hati, dan lebih takut kepada Allah.
 
Sebaliknya, kebohongan juga bekerja dengan cara yang sama. Satu kebohongan kecil akan memaksa seseorang untuk menciptakan seratus kebohongan lain demi menutupinya. Lama-kelamaan, hati akan kehilangan rasa malunya. Awalnya canggung berbohong, lalu menjadi terbiasa, hingga akhirnya tidak merasa bersalah lagi. Na'udzubillah.
 

Jujur Bukan Berarti "Julid" atau Menyakitkan

Namun, ada satu catatan penting yang sangat relevan dengan etika komunikasi modern. Para ulama mengingatkan bahwa kejujuran harus selalu beriringan dengan kebijaksanaan (hikmah).
 
Imam Abul 'Abbas al-Qurthubi menegaskan bahwa menjaga kejujuran dalam ucapan harus dibarengi dengan kebersihan hati. Kejujuran yang diajarkan Rasulullah adalah kejujuran yang membawa kebaikan, bukan kejujuran yang dijadikan alat untuk menghina, merendahkan, atau menyebarkan aib orang lain.
 
Jujur bukan berarti membuka aib saudara kita di depan umum. Jujur bukan berarti berbicara tanpa adab dengan alasan "aku ini orangnya blak-blakan". Jika mengatakan kebenaran justru akan menumpahkan darah atau menghilangkan hak orang lain tanpa faedah, maka diam adalah pilihan yang lebih bijaksana. Islam memisahkan antara ketegasan menyampaikan kebenaran dengan kehalusan akhlak.