"Transformasi tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan kapabilitas bisnis, tetapi juga keberanian untuk menata kembali organisasi agar semakin fokus pada bisnis inti," kata Seno.

Ia menambahkan, dengan struktur yang lebih ramping, Telkom memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bergerak lebih agile, mengalokasikan investasi secara lebih optimal, serta menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas.

Dalam struktur HoldCo-OpCo, Telkom sebagai HoldCo akan berfokus pada pengelolaan portofolio, penguatan tata kelola, penciptaan sinergi, dan optimalisasi nilai antar segmen bisnis.

Sementara itu, aktivitas operasional dijalankan oleh OpCo yang lebih spesifik terfokus pada Segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International Business.

Telkom memastikan setiap proses streamlining dilakukan secara prudent, akuntabel, dan transparan dengan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan Business Judgment Rule (BJR).

Setiap keputusan strategis diambil berdasarkan kajian yang komprehensif dan berkoordinasi erat dengan para pemangku kepentingan, termasuk Kejaksaan Agung, BPKP, DAM, dan BP BUMN.

Sejalan dengan transformasi organisasi, Telkom juga memastikan setiap penyesuaian sumber daya manusia dilakukan secara bertanggung jawab dengan penghormatan atas hak-hak karyawan terdampak.

Seluruh proses dijalankan secara sukarela dan atas kesepakatan bersama, salah satunya melalui Early Retirement Program (ERP) yang pada 2026 akan ditujukan pada level OpCo.

Program streamlining merupakan bagian dari target jangka menengah hingga tahun 2030 untuk membangun fundamental perusahaan yang semakin solid.

>>> Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang di Bener Meriah

Telkom optimistis dapat memperkuat daya saing perusahaan serta meningkatkan kualitas pada area bisnis yang memiliki prospek pertumbuhan terbaik di masa mendatang.