Itachi hidup sebagai anggota Akatsuki sambil diam-diam melindungi desa yang telah mengorbankan reputasinya. Bahkan saat sakit parah, ia terus menyembunyikan kebenaran.

Ia rela dibenci oleh orang yang paling dicintainya demi melindungi mereka.

Gaara juga memiliki masa kecil kelam. Sejak lahir, ia ditakuti karena di dalam dirinya bersarang Shukaku, monster berekor satu.

Alih-alih mendapat kasih sayang, ia diperlakukan sebagai senjata berbahaya.

Ayahnya sendiri, Kazekage Keempat, berulang kali memerintahkan pembunuhan terhadap Gaara untuk menguji kemampuannya. Pengkhianatan itu menghancurkan ikatan terakhir yang ia percaya.

Gaara tumbuh menjadi anak yang kesepian dan percaya bahwa cinta tidak ada.

Pertemuannya dengan Naruto mengubah segalanya. Untuk pertama kalinya, Gaara bertemu seseorang yang mengalami kesepian serupa namun memilih jalan berbeda.

Ia pun berubah dan akhirnya menjadi Kazekage, melindungi desa yang pernah menolaknya.

>>> Insentif Rp5,4 Miliar untuk Divisi Chip Picu Kecemburuan di Samsung

Shoto Todoroki dari My Hero Academia menderita di dalam rumahnya sendiri. Ayahnya, Endeavor, mengatur pernikahan hanya untuk menghasilkan anak yang bisa melampaui All Might.

Shoto diperlakukan sebagai eksperimen, bukan anak.

Latihan tanpa henti, ekspektasi mustahil, dan isolasi emosional menjadi kesehariannya. Ibunya mengalami gangguan mental akibat pelecehan, dan insiden tragis meninggalkan luka bakar di wajah kiri Shoto.

Meski demikian, ia memilih menjadi pahlawan dengan caranya sendiri.

Shinji Ikari dari Neon Genesis Evangelion menderita karena kesepian dan tanggung jawab yang membebani. Setelah kehilangan ibunya, ia ditinggalkan oleh ayahnya.

Saat dipanggil kembali, itu bukan untuk membangun hubungan, melainkan untuk mengendalikan Evangelion.

Setiap pertempuran memberinya tekanan psikologis besar. Shinji tidak pernah ingin bertarung; ia hanya ingin diakui sebagai manusia.