Sampah yang sudah dipilah bisa dijual ke pengepul, lalu diteruskan ke industri daur ulang," ujar Agastya.

Pandangan Agastya sejalan dengan tulisan Marco Bertini dalam MIT Sloan Management Review.

Bertini menilai perusahaan perlu merancang ulang strategi harga agar biaya lingkungan tidak selalu muncul di akhir proses produksi.

Menurutnya, perusahaan perlu mempertimbangkan apa yang sebenarnya dibayar pelanggan, siapa yang menanggung biaya, serta kapan biaya tersebut dialokasikan.

Dengan begitu, biaya lingkungan dapat dikelola sejak awal rantai produksi.

Pada akhirnya, Agastya menekankan bahwa keberlanjutan tidak selalu identik dengan investasi besar. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu berjalan secara konsisten dan layak secara ekonomi.

"Yang penting sistemnya bisa berjalan dan minimal mencapai titik impas (break even point)," katanya.

>>> 5 Motor Bekas 150 cc di Bawah Rp10 Juta untuk Buruh dan Mahasiswa

Dengan perencanaan matang, perusahaan dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang efisien, berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi jangka panjang.