PT Jababeka Infrastruktur, anak usaha PT Jababeka Tbk yang mengelola Kawasan Industri Jababeka, menegaskan komitmennya untuk tumbuh bersama masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Direktur Utama PT Jababeka Infrastruktur, Didik Purbadi, menyatakan bahwa sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci pembangunan inklusif.

>>> Kemenpar dan Kemenkum Jalin Kerja Sama Lindungi Kekayaan Intelektual Produk Wisata

Direktur PT Jababeka Infrastruktur, Vega Violetta Puspa, menambahkan bahwa perusahaan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Upaya ini sejalan dengan target SDGs dan agenda pembangunan berkelanjutan nasional.

Komitmen tersebut membuahkan hasil dengan diraihnya enam penghargaan dalam ajang TJSLP/CSR Awards 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Penghargaan tersebut meliputi Terbaik 1 Kategori Infrastruktur, Terbaik 1 Kategori Pengelola Kawasan Industri, Terbaik 2 Kategori SDGs Pilar Sosial, Terbaik 1 Kategori SDGs Pilar Ekonomi, Terbaik 1 Kategori SDGs Pilar Lingkungan, serta gelar Pemenang Top SDGs.

Top SDGs Award merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada perusahaan dengan rekam jejak terbaik dari tiga pilar SDGs: ekonomi, sosial, dan lingkungan.

>>> Hisense Luncurkan Monitor Gaming 180Hz Termurah, Mulai Rp1 Jutaan

Program TJSLP Jababeka Infrastruktur mencakup infrastruktur, lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri.

Salah satu program unggulan adalah penanaman mangrove di pesisir Muara Gembong untuk menjaga ekosistem dan melibatkan masyarakat dalam pelestarian lingkungan.

Perusahaan juga mengembangkan Pusat Daur Ulang (PDU) Mekarmukti dengan Mini Plant of Low Carbon Feed yang mengolah limbah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF).

Program ini mengurangi volume sampah organik sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga.

>>> Tesla Tabrak Kafe di California, Satu Tewas

Keberhasilan program tidak lepas dari peran aktif masyarakat, seperti Jahuri yang menginisiasi Mini Plant of Low Carbon Feed hingga menjadi Desa Eduwisata Mekarmukti, Sonhaji yang menggerakkan ekowisata mangrove di Muara Gembong, dan Wiwi Marwiyah yang mendorong pemberdayaan ekonomi melalui keterampilan menjahit.