Sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) komersial terbakar pada Selasa pagi, 7 Juli 2026, setelah terkena proyektil di Selat Hormuz dekat Limah, Oman.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan bahwa kapal tersebut mengalami serangan di sisi kiri saat berlayar ke selatan menuju Teluk Oman.

>>> Belgium Singkirkan AS dari Piala Dunia di Seattle

Pejabat AS yang dikutip oleh The Wall Street Journal dan Axios menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran menembakkan rudal ke kapal-kapal komersial yang melintasi wilayah tersebut.

Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa kapal itu menjadi sasaran setelah mengabaikan peringatan, meskipun Teheran belum secara langsung mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Tidak ada korban jiwa atau kerusakan lingkungan yang tercatat akibat serangan itu.

Insiden ini terjadi saat Iran mengadakan pemakaman multi-hari untuk mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada Februari lalu.

Akibatnya, negosiasi rapuh antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik masih dijeda selama peringatan tersebut.

>>> Cadangan Devisa RI Naik Jadi US$145,6 Miliar per Juni 2026

Sebelum serangan, pergerakan maritim regional telah menunjukkan ketegangan yang berkelanjutan atas jalur pelayaran.

Pada hari Minggu, Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan pengerahan angkatan laut untuk mencegat kapal-kapal yang memilih jalur di luar rute yang disetujui Teheran.

Angkatan laut mengerahkan kapal patroli khusus untuk memblokir 'rute Oman,' menurut pernyataan yang disiarkan media Iran dan saluran digital afiliasi.

Meskipun insiden baru-baru ini, agen pelacak maritim MarineTraffic mencatat 108 kapal melintasi selat antara Jumat dan Minggu.

UKMTO mencatat bahwa lalu lintas secara keseluruhan tetap stabil, tetapi mengeluarkan peringatan mengenai ancaman persisten terhadap pelayaran komersial.

>>> Henderson Cedera 'Konyol' Tanpa Bermain, Pelatih Inggris Campur Aduk

Presiden AS Donald Trump berangkat ke KTT NATO berisiko tinggi di Ankara, Turki, tak lama setelah insiden tersebut, di mana para pemimpin internasional diharapkan membahas kerangka keamanan maritim di kawasan itu.