Louis DeSipio, profesor ilmu politik di UC Irvine, menilai skala dan kekerasan razia mencerminkan kurangnya pengekangan Trump di masa jabatan kedua.

"Apa yang diancamkan adalah penegakan hukum yang tidak pandang bulu, dan itu terjadi," katanya.

Kongres yang patuh menyetujui pendanaan bersejarah untuk ICE dan Patroli Perbatasan, serta melibatkan lembaga federal lain dalam penegakan imigrasi dan deportasi.

Kritik juga menyoroti retorika xenofobia yang meningkat, terutama terhadap imigran Amerika Latin dan imigran kulit hitam dari Haiti dan negara Afrika.

Trump juga berupaya mengakhiri kewarganegaraan berdasarkan kelahiran melalui perintah eksekutif yang kini di Mahkamah Agung.

>>> Pria Divonis Seumur Hidup Bunuh Sepupu Hamil dan Sahabatnya

Laporan Senat AS pada Desember mendokumentasikan hampir dua lusin warga negara AS yang ditahan ICE antara Juni dan November 2025, termasuk seorang wanita hamil dan seorang veteran Angkatan Darat.

Analisis Capital & Main menemukan setidaknya sembilan warga negara di California Selatan ditahan tahun lalu, termasuk seorang pemuda 20 tahun yang ditahan tiga hari saat istirahat kerja di Walmart.

Vanessa Cárdenas, direktur eksekutif America's Voice, mengatakan, "Jika Anda terlihat berbeda, tidak berbahasa Inggris, atau terdengar berbeda, Anda menjadi sasaran."

Setelah razia di Los Angeles, laporan serupa muncul di Chicago, New York, dan Minneapolis, di mana dua warga negara ditembak dan tewas oleh agen federal.

DeSipio mengatakan Los Angeles County, dengan 950.000 imigran tidak sah, menjadi sasaran utama karena politik dan demografinya.

"Ini cara untuk melemahkan Gubernur Gavin Newsom yang dianggap sebagai ancaman politik," ujarnya.

California, negara bagian dengan jumlah imigran tidak sah terbanyak, telah lama menentang penindakan federal. Los Angeles sebagai kota suaka memiliki gerakan hak imigran paling aktif.