Tarif Tunggal Transportasi Umum Jakarta

Terkait penyesuaian tarif, menurut Sugihardjo, berdasarkan kajian tarif tunggal layanan transportasi umum dalam Jakarta disesuaikan jadi Rp5.000, sementara Mikrotrans tak lagi gratis melainkan diberi tarif Rp2.000.

Dia menyebut kajian itu juga telah dibahas melalui dialog publik bersama berbagai pihak.

Ia menjelaskan tarif tersebut akan berlaku untuk layanan TransJakarta yang terintegrasi dengan mikrotrans, BRT, maupun non-BRT.

Kendati demikian, Sugihardjo menegaskan usulan tarif langganan masih menjadi bagian dari kajian DTKJ terkait penyederhanaan tarif transportasi umum di Jakarta.

"Besarannya untuk yang dalam kota Jakarta kita mengusulkan Rp5.000," kata Sugihardjo.

Menurut dia, meski tarif BRT naik dari Rp3.500 menjadi Rp5.000, masyarakat yang sebelumnya harus membayar lebih saat berpindah layanan justru akan diuntungkan.

"Kalau misalnya selama ini Rp3.500 naik BRT terus nyambungnya enggak ke BRT, ke non-BRT, berarti nambahnya berapa?

>>> Prabowo Sambut Kedatangan PM India Narendra Modi di Bandara Halim

Rp3.500 dua kali kan, jadi Rp7.000. Kalau sekarang dengan Rp5.000 naik apa turun ongkosnya?"

papar Sugihardjo.

Tarif Mikrotrans Rp2.000

Sementara itu, untuk mikrotrans yang selama ini gratis, Sugihardjo mengatakan pihaknya mengusulkan agar diubah jadi diberi tarif Rp2.000.

"Kalau hanya untuk jarak dekat hanya naik Mikrotrans itu tarifnya Rp2.000. Kita mengusulkan Rp2.000," kata Sugihardjo.

Selama ini, mikrotrans atau sebelumnya dikenal juga dengan sebutan Jaklingko itu tidak dikenakan biaya alias Rp0.

Namun, penumpang tetap wajib menempelkan (tap-in/tap-out) kartu uang elektronik pada mesin dalam armada.

Satu kartu berlaku untuk satu penumpang, dan jumlah penumpang pun dibatasi kuota kursi.

Menurut Sugihardjo, selama layanan angkutan pengumpan Transjakarta itu masih gratis, terdapat kemungkinan jumlah penumpang yang tercatat tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.